Saturday, 12 January 2019

Sadarku.....



Ya, aku sadari itu duhai bianglala indah...bahwa aku masih harus di sini menyelesaikan tugasku.
Kau tahu bukan?
Bianglala jawablah..! Mengapa engkau masih membisu?
Engkau sungguh mempesona, aku menatapmu dari tempatku berdiri. Menampakkan warna-warni elokmu untuk menjadi penawar kesenyapan. Keheningan yang akhir-akhir ini setia mengitari diriku, hening.....sendiri. Oh tidak, jangan berpikir senyap berarti aku kesepian...sama sekali tidak! Meskipun tadinya aku sempat merasakan itu. Menganggapnya menjadi suatu kemestian dari kesendirian. Kini segalanya mulai berubah. Aku sungguh menikmati kesendirian...aku lebur di dalamnya, menyatu, dan kuhanyut...

Aku tak tahu berapa lama aku harus berada di sini
Aku tak tahu kapan aku dapat menyelesaikan pekerjaan ini
Yang kutahu betapa membukit aral melintang agar aku dapat melalui jalan ini. Padahal aku ingin menempuhnya, aku harus melanjutkan perjalanan. Dan pintu itu sudah ada di sana, sudah terbuka untukku dan menanti diriku setiap saat. Pintu yang selama ini aku cari-cari keberadaannya, jalan yang sebelumnya seringkali kupertanyakan, kini aku menjejakkan kaki di situ.

Namun, mengapa aral membukit berada di sini? Atas perintahNya kah?
Sungguh di luar sangkaan sebelumnya
Baru kemarin aku menerima berita yang sangat teramat luar biasa
Aku terima, aku coba untuk menggenggamnya, menempatkannya dalam ruang diri kehambaan. Menerima sebagai tulisan pena dariNya.
Mengikuti jalannya takdir

Kini, bila realitas telah terbentang di hadapan, wajib kuterima. Karena aku sadar.
Bukan begitu, Bianglala? Ah dirimu semakin indah saja terbias cahaya mentari yang hangat menyusup pori-poriku. Sang mentari yang menyampaikan pesan sarat makna setiap harinya. Agar aku sabar membersihkan segala yang merintangi jalan ini.

Satu per satu bebatuan, dahan, rongsokan, sampah-sampah yang ada harus aku angkat dan meletakkan pada tempatnya agar jalan ini bisa kulalui....
Entah berapa hari lagi...
Padahal hari telah berganti bulan bahkan tahun
Namun aku masih di sini
Kadang lelah menerpa...
Kadang perih goresan luka dari sayatan ranting
Letih, perih, nyeri sekujur tubuh sudah biasa
Dan...
Aku masih di sini

Ku duduk beristirahat di bawah rindang pepohonan
Kicauan burung ceria mengantarkan bayangan2 mereka hadir satu demi satu
Mereka yang juga sedang berjalan, semoga perjalanan kalian dituntunNya
Mereka yang juga sedang berjuang meraih kesabaran yang belum jua Engkau anugerahkan
Seperti juga diriku, yang kini tertunduk lesu menyadari alangkah makna kesabaran sedemikian 'menakjubkan' untuk diraih.
Begitu tingginyakah? Atau, begitu luasnyakah? Atau, begitu beratnyakah? Atau, begitu dalamnyakah? Berjuta tanya menyeruak.

Aku sadar. Apa yang kalian rasakan, sungguh, aku merasakannya...
Tapi sedihnya, aku tak bisa berbuat apa-apa meski ingin kuulur tanganku meringankan sesak yang kalian alami
Hanya karena, aku tak sanggup...aku pun masih harus menyelesaikan segalanya. Agar aku bisa segera berjalan kembali, menemui kalian.
Hanya munajat dan harapan kutitipkan pada hembusan angin, sampaikan kepada pemilikmu bahwa kami butuh pertolongan.
Aku tak mau berlama-lama di sini, juga mereka nun jauh.
Aku tanggalkan letihku, perihku, laraku
Berdiri..bergerak, mengumpulkan segenap tenaga
meski tertatih-tatih

Makassar, 21 Maret 2016
Untukku, untuk kalian




Foto : Milan
Lokasi : Malino, Sul Sel. Tahun 2012.

No comments:

Post a Comment

 #REFLEKSI                                                                      PESANMU..... "Nak... Jauhilah prasangka buruk kepada si...