Mungkin sekarang baiknya kuberdiam saja. Mengerjakan rutinitas harian dan menikmati hidup. Sesederhana itukah? Ya. Sederhana sekali, bukan? Justru yang seserhana acapkali dibuat sulit oleh sang pelaku kehidupan itu sendiri.
Saat ini nampaknya aku dituntut lebih banyak belajar. Seperti kata mereka padaku : belajar ikhlas. Benar-benar pusing aku dibuatnya. Karena pemahaman ikhlas kali ini begitu mendalam. Saking dalamnya aku merasa tak mampu mereka-reka kedalamannya yang tak terjangkau oleh apapun. Pelajaran yang tak ditemukan dalam teori manapun namun harus kupratikkan sendiri tanpa kutahu bagaimana rumusannya!
Waktu terus mengalir...dan aku masih duduk termangu. Mencari apa itu ikhlas? Bukan, bukan mencari definisinya... Jika hanya sekedar definisi betapa mendistorsi kesemestaan maknanya. Tangga ikhlas bukan tangga yang biasa aku lihat selama ini. Tak mudah menemukannya. Padahal bila belum ditemukan, bagaimana mungkin kupijakkan kaki untuk ke sana?
Baiklah, kuberdiam saja.
Bukan berarti diam tak berbuat sesuatu. Diam dalam gerak. Aku harus mengumpulkan kembali energi untuk bergerak...memetakan apa yang selama ini masih samar-samar dan semrawut. "Kacau balau", itu yang kadang ku ucapkan dalam menggambarkan suasana pikiranku. Kekacauan yang selalu kutata kembali dalam setiap meditasiku. Namun sekarang, segalanya mulai lebih terang. Lebih teratur, mulai tertata apik. Belum semuanya memang...butuh usaha dan energi lagi, lagi dan terus berlanjut.
Aku hanya ingin berdiam. Sambil seperti biasa, menemukanmu dalam hari-hariku. Berbicara saat aku duduk seorang diri mencari-cari jawaban dari kekonyolan yang kubuat sendiri. Pantas saja seringkali aku lihat engkau tertawa, seolah menertawakanku yang belum juga sadar akan makna tugas hidupku sendiri. Mencoba membuka mataku melihat kenyataan. Namun selama ini seolah kularut dalam lamunan panjang keduniawian.
Apakah dengan menyadari kenyataan akan membuatku ikhlas? Mencuci hati agar bersih dari segala noda, luka batin, keangkuhan, kemunafikan, kemarahan, penolakan? Hhhh...Kata terakhir itu mengusikku...penolakan! Ada apa dengan 'penolakan'? Justru itu aku bertanya. Mengapa ada penolakan terhadap jalan hidup? Atau terhadap amanah, terhadap berkah besar yang sudah diberikanNya?
Sudahlah, kuterima saja apapun tudingan ini. Ya Rabb, hamba tak tahu bagaimana lagi..? Menemukan makna ikhlas yang belum jua kutemukan. Lagi-lagi engkau tertawa melihatku bingung. Duduk seperti biasa, sendiri. Terkadang bersama rekan-rekanmu. Kukenali keberadaan mereka. Kehadiran kalian menghibur perjalananku.
Tapi mengapa belum terjawab juga?
Apa lagi yang harus kulakukan? Semakin banyak tanda tanya mengukir. Bantu aku menjawabnya, ku mohon!
*Repost from Facebook Account
7 March 2016, 01:32
Picture taken by : Milan
Lokasi : Benteng Rotterdam, Makassar. September 2018.
Saat ini nampaknya aku dituntut lebih banyak belajar. Seperti kata mereka padaku : belajar ikhlas. Benar-benar pusing aku dibuatnya. Karena pemahaman ikhlas kali ini begitu mendalam. Saking dalamnya aku merasa tak mampu mereka-reka kedalamannya yang tak terjangkau oleh apapun. Pelajaran yang tak ditemukan dalam teori manapun namun harus kupratikkan sendiri tanpa kutahu bagaimana rumusannya!
Waktu terus mengalir...dan aku masih duduk termangu. Mencari apa itu ikhlas? Bukan, bukan mencari definisinya... Jika hanya sekedar definisi betapa mendistorsi kesemestaan maknanya. Tangga ikhlas bukan tangga yang biasa aku lihat selama ini. Tak mudah menemukannya. Padahal bila belum ditemukan, bagaimana mungkin kupijakkan kaki untuk ke sana?
Baiklah, kuberdiam saja.
Bukan berarti diam tak berbuat sesuatu. Diam dalam gerak. Aku harus mengumpulkan kembali energi untuk bergerak...memetakan apa yang selama ini masih samar-samar dan semrawut. "Kacau balau", itu yang kadang ku ucapkan dalam menggambarkan suasana pikiranku. Kekacauan yang selalu kutata kembali dalam setiap meditasiku. Namun sekarang, segalanya mulai lebih terang. Lebih teratur, mulai tertata apik. Belum semuanya memang...butuh usaha dan energi lagi, lagi dan terus berlanjut.
Aku hanya ingin berdiam. Sambil seperti biasa, menemukanmu dalam hari-hariku. Berbicara saat aku duduk seorang diri mencari-cari jawaban dari kekonyolan yang kubuat sendiri. Pantas saja seringkali aku lihat engkau tertawa, seolah menertawakanku yang belum juga sadar akan makna tugas hidupku sendiri. Mencoba membuka mataku melihat kenyataan. Namun selama ini seolah kularut dalam lamunan panjang keduniawian.
Apakah dengan menyadari kenyataan akan membuatku ikhlas? Mencuci hati agar bersih dari segala noda, luka batin, keangkuhan, kemunafikan, kemarahan, penolakan? Hhhh...Kata terakhir itu mengusikku...penolakan! Ada apa dengan 'penolakan'? Justru itu aku bertanya. Mengapa ada penolakan terhadap jalan hidup? Atau terhadap amanah, terhadap berkah besar yang sudah diberikanNya?
Sudahlah, kuterima saja apapun tudingan ini. Ya Rabb, hamba tak tahu bagaimana lagi..? Menemukan makna ikhlas yang belum jua kutemukan. Lagi-lagi engkau tertawa melihatku bingung. Duduk seperti biasa, sendiri. Terkadang bersama rekan-rekanmu. Kukenali keberadaan mereka. Kehadiran kalian menghibur perjalananku.
Tapi mengapa belum terjawab juga?
Apa lagi yang harus kulakukan? Semakin banyak tanda tanya mengukir. Bantu aku menjawabnya, ku mohon!
*Repost from Facebook Account
7 March 2016, 01:32
Picture taken by : Milan
Lokasi : Benteng Rotterdam, Makassar. September 2018.

No comments:
Post a Comment