SMS
Pada suatu siang saya ke warung campuran yang berada tak jauh dari rumahku untuk mencari suatu keperluan. Begitu melihatku, Bi Surti menyambut dengan senyum, "Baru kelihatan lagi nih Mama Difa?" sapanya sembari membenahi dagangan di warungnya yang tak seberapa luas. Warung sekaligus tempat tinggalnya dengan bangunan yang belum permanen, nampak didominasi kayu dan seng, yang bila siang hari akan terasa panas menyengat kulit. "Iya bi Surti...sudah cukup lama ya saya ga ke mari." jawabku. Kami sudah cukup akrab, usianya pun tak jauh beda denganku. Seorang ibu yang tangguh dengan bekal pendidikan yang tak tamat Sekolah Dasar.
Mataku seketika singgah ke suatu benda baru di situ... sebuah lemari freezer (untuk es batu dan beragam es lainnya). "Wah freezer baru ya bi Surti? Alhamdulillaah, jadi bisa muat banyak es dan bikin es batu yang banyak," celetuk saya, merasa senang juga melihat kemajuan warung bu Surti. Bi Surti tertawa..."Ah, ini freezer bekas saja kok...mumpung orangnya menjual dengan harga yang lumayan murah." Saya manggut-manggut, "Jadi sekarang makin lengkap dong jenis es yang dijual, jadi makin banyak pelanggan." selorohku.
"Hahaha....Alhamdulillaah... yah, tapiii... ada yang lucu." Katanya sembari tertawa.
"Lho, lucu bagaimana?" ujarku bingung
"Itu...saya yang beli freezer, warung sebelah yang 'kedinginan'." sahutnya tersenyum penuh arti.
"Hahaha...ah masa sih bi Surti..?? Kok ga sekalian saja itu orang dimasukin freezer biar beku! Eehhh...maksudnya, do'akan saja biar warungnya laris juga dan hatinya selalu lapang."
Ungkapan "Senang melihat orang susah atau susah melihat orang senang" atau biasa disingkat SMS, tak bisa dipungkiri menjadi fenomena yang bisa ada di mana saja dan terjadi pada siapa saja. Tak jarang, orangnya sendiri pun tak menyadari bila ia dihinggapi salah satu "penyakit hati" ini. Penyakit hati bernama iri mudah terjangkit oleh siapa saja, yang penyebabnya sangat beragam. Iri bisa mencuat dari keinginan untuk memiliki apa yang orang lain miliki, namun ia tak sanggup untuk mencapainya sehingga menimbulkan kecemburuan. Bila kecemburuan ini tak terbendung lagi, muncullah sikap seperti memusuhi orang yang dicemburui, menjatuhkan, merebut apa yang orang itu miliki.
Ada yang menyamakan istilah "iri" dan "dengki", ada pula yang mengatakan seseorang disebut "dengki" bila ada action untuk merebut apa yang dimiliki oleh orang lain yang ia tidak suka jika orang itu memilikinya. Bila masih berupa perasaan atau sikap, belum dikatakan sebagai dengki.
Parrott, W. G., & Smith, R. H dalam Wikipedia mendefinisikan Iri hati (bahasa Inggris: envy, bahasa Latin: invidia), terkadang disebut juga dengki atau hasad, adalah suatu emosi yang timbul ketika seseorang yang tidak memiliki suatu keunggulan—baik prestasi, kekuasaan, atau lainnya—menginginkan yang tidak dimilikinya itu, atau mengharapkan orang lain yang memilikinya agar kehilangannya.
Hanya satu cara agar penyakit hati satu ini tak hinggap mengotori batin, yaitu selalu bersyukur. Kelihatannya mudah? Tentu tidak, tidak mudah! Rasa syukur tak mudah begitu saja diucapkan, apalagi diwujudkan. Syukur itu suatu tahapan tangga tinggi yang dicapai dengan penuh perjuangan dan pengalaman batin yang mumpuni. Jadi bagaimana? Apa mungkin mencapai syukur itu? Sangat mungkin! Namun sekali lagi, tak ada sesuatu yang luar biasa dicapai dengan cara "biasa-biasa" saja. Selalu berusaha meredam keinginan besar di luar kesanggupan, itu sudah sebuah langkah awal. Bukan berarti tak boleh mempunyai harapan atau cita-cita. Namun disertai usaha, do'a, realistis menerima keadaan, lebih banyak bersabar dan bersabar...."
"Dan janganlah kau iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu. (Q.S. An Nisaa' : 32)
Mila Zees
Foto : Milan/Maret 2018.
Makassar, 20 Januari 2019.

No comments:
Post a Comment