#Tinjauan Film
Jilbab Traveler
Love Sparks in Korea
Biasanya Pak Suami mengajak anak-anak untuk membuat resensi film yang telah kami tonton, atau setidaknya gagasan atau pesan apa yang disampaikan pada film tersebut. Menonton film juga merupakan salah satu "kegemaran" saya dan keluarga, berbagai tema film saya suka... entah itu action, drama, kartun, iluminasi, komedi, sejarah, horor, dsb. Film Indonesia, Barat, Korea, India, apa pun... tentunya yang menarik perhatian saya untuk menontonnya 😁. Berjudul-judul film memenuhi Flash disc dan lap top, menontonnya ya tentu kapan saja bila ada waktu luang atau kesempatan.
Suatu hari Paksu mengatakan, "Ada film yang cocok nih untuk dirimu." 😀 Lha maksudnya cocok apa ya? pikirku. Entahlah.. belakangan Ia mengatakan karena pemerannya sama dengan saya, suka memotret. Kirain karena pemeran wanita utamanya (Bunga Citra Lestari) mirip denganku. Hahaha..!
Film yang dimaksud berjudul Jilbab Traveler : Love Sparks in Korea, diangkat dari novel besutan Asma Nadia sekaligus sebagai penulis cerita di film ini. Karya yang sudah cukup lama, rilis 27 Juni 2016.
Saya tidak menceritakan kembali atau membuat semacam resensi film tersebut, karena toh sudah banyak yang membuat semacam resensi untuk film-film yang telah tayang. Namun hanya ingin share point-point yang saya anggap berkesan dari suatu film. Bisa berupa dialog yang memiliki makna mendalam, pesan-pesan yang sekiranya bermanfaat atau memberikan pelajaran maupun teladan yang baik bagi sesama, dan sejenisnya.
Dalam film yang berlatar belakang suatu keluarga : Ayah, Ibu dengan 3 orang anak yang telah dewasa (Tia, Eron, Rania), cukup menggambarkan keluarga yang harmonis, santun, dan kehidupan religi yang baik. Sang Ayah mendidik anak-anaknya agar optimis dan semangat dalam menjalani kehidupan. Kata-kata Ayah terngiang pada telinga Rania kecil, saat ia berlarian di sisi rel kereta api bersama saudara-saudaranya. "Suatu saat gerbong-gerbong kereta ini akan membawamu ke negeri yang jauh."
Harapan sang Ayah terjawab di kemudian hari, impiannya kepada Rania menjadi kenyataan. Ia sering mendapatkan kesempatan berkunjung ke negara-negara lain melalui kepiawaiannya menulis. Rania (diperankan Bunga Citra Lestari) tumbuh menjadi seorang gadis tangguh, yang tak putus asa walau gagal melanjutkan kuliah karena sakit gagar otak yang pernah dideritanya. Ia menjadi seorang penulis buku yang karyanya telah banyak diterbitkan.
Ayahnya berpesan kepada Rania, "Jadilah Ibnu Batutah bagi Ayah. Jadilah mata dan kaki Ayah dalam menjelajahi dunia." Ayah Rania kagum kepada sosok Ibnu Batutah yang telah mengelilingi puluhan negara di berbagai belahan dunia sejak usia yang terbilang muda dalam membawa misi da'wah sekaligus berniaga. Namun tak lama kemudian Rania mendapatkan kenyataan pedih, Ayahnya berpulang ke Rahmatullah.
Konflik yang dihadirkan pada film ini berkisar pergulatan Rania dalam menentukan calon pendamping diantara dua pria yang mendekatinya. Yaitu Hyun Geun (diperankan oleh Morgan Oey), seorang muslim berkebangsaan Korea namun ternyata masih keturunan Indonesia dan bermukim di Korea, serta Ilhan (diperankan oleh Giring Ganesha) seorang pria berprofesi sebagai pengajar yang telah dekat dengan keluarganya.
Perjuangan Ilhan dan Hyun Geun dalam mendekati Rania, cukup menarik dan sedikit menggelitik. Keduanya melancarkan jurusnya masing-masing dengan pantang menyerah. Istilah sekarang tuh "ga baperan" 😁, tidak saling menjelekkan atau pun bersikap dan berkata kasar.
Singkat cerita, Rania menjatuhkan pilihan kepada Ilhan. Persiapan pernikahan pun digelar. Di tengah kesibukan persiapan tersebut, Rania mengetahui bahwa Hyun Geun terluka disebabkan terkena dampak aksi bom di Palestina ketika ia menjadi relawan di sana. Kejadian tersebut mengakibatkan salah satu tangannya diamputasi, kenyataan itu membuat Hyun menjadi "down". Sahabat Hyun Geun, Alvin (diperankan oleh Ringgo Agus Rahman) mengabarkan dan meminta Rania ke Korea untuk menemui Hyun Geun.
Di luar dugaan, Ilhan justru menyarankan Rania ke Korea menemui Hyun Geun dan siap menemani Rania ke Korea. Setiba di Korea dan menemui Hyun Geun, tak disangka Ilhan meminta Rania jujur menyatakan apakah Ia memilih Hyun Geun atau dirinya sebagai pendamping hidupnya. Karena Ilhan menangkap sikap Rania selama ini menyiratkan memendam perasaan kepada Hyun Geun.
Point ini cukup membuat saya "salut" akan kebesaran hati Ilhan yang tidak memaksakan kehendak pada Rania. Juga tidak berusaha merebut perasaan Rania dan menyingkirkan Hyun Geun, namun menyelesaikan semuanya dengan elegan.
Sedikit yang saya sayangkan, ada scene memperlihatkan "kekurangwajaran". Contohnya saat Rania bertemu untuk pertama kalinya dengan Hyun Geun dan sahabat Hyun, Alvin di Baluran kemudian melanjutkan perjalanan ke kawah Ijen. Mereka pergi bertiga sampai malam hari, di lokasi yang digambarkan sepi dan cukup gelap (mirip dalam sebuah gua). Agak riskan saja jika seorang wanita pergi bersama dua orang pria yang baru dikenal dan melakukan perjalanan ke tempat seperti itu. Lalu gambaran kedekatan Rania dan Hyun Geun memperlihatkan keindahan wisata di Korea, bermain salju, bersepeda dan mengunjungi kuil. Menurut saya agak berlebihan untuk seseorang yang baru dikenal serta untuk tontonan dengan mengusung nuansa religi.
Di samping itu, persiapan pernikahan agak terkesan berlebihan dengan mempertontonkan kebersamaan Ilhan dan Rania dalam banyak urusan seperti Ilhan menemani Rania fitting gaun pengantin dan menata rumah baru yang akan ditempati setelah menikah.
Kegalauan sikap Rania pun tertangkap dalam menghadapi Ilhan maupun Hyun, mengesankan sedikit "kebingungan" dan kurang mantap dalam menetapkan pilihan. Atau mungkin saja ini menjadi salah satu daya tarik cerita agar memberikan "greget" bagi penonton 😄.
Secara keseluruhan film ini cukup menarik untuk ditonton. Memperlihatkan keharmonisan keluarga, kasih sayang, optimisme, tutur kata santun serta ketegaran menghadapi hidup. Pesan untuk berbaik sangka terhadap orang lain ditunjukkan kala Rania baru mengenal Hyun yang berambut gondrong, berpenampilan "urakan" bahkan minum alkohol. Di kemudian hari Rania terkejut mengetahui bahwa Hyun seorang muslim. Setelah kesedihan mendalam mendapati Ibunya yang meninggal dunia saat Ia berada di Indonesia, Hyun bangkit dan berubah dengan tampilan menjadi lebih rapi dan sopan, meninggalkan alkohol serta menjadi relawan di Palestina.
Penonton juga dimanjakan suguhan indahnya panorama negeri ini yaitu Baluran dan kawasan kawah Ijen. Di samping pemandangan alam negara-negara lain yang menarik serta mengundang decak kagum.
Oh ya satu lagiiii....Saya suka kata-kata Rania ketika Hyun mengatakan mengapa masih menggunakan kamera seperti yang digunakannya sekarang. Rania menjawab : "Tak perlu kamera bagus untuk menghasilkan foto yang bagus."
Bagi saya ini maknanya mendalam. Untuk melakukan yang terbaik gunakanlah apa yang kita miliki saat ini. Bila belum mampu memiliki yang lebih, jangan memaksakan. Yang penting memulai, jalani. Jangan menunggu sesuatu yang belum bisa dijangkau untuk melakukan tindakan.
Right?

No comments:
Post a Comment