LUKA
Jadi, inikah realita itu? Sungguh sesuatu yang tak disangka, tak terduga, tak terbayangkan sebelumnya. Bahkan terlintas sekalipun. Sungguh..!
Kuhanyut dirangkul keterkejutan. Bukan hanya terkejut, namun menderaku dalam ketidakpercayaan dan ketakjuban tak berkesudahan.
Kudesak diriku untuk bangkitkan kesadaran yang selama ini hampir-hampir terabaikan. Wujud diri sendiripun seolah tak kuanggap keberadaannya. Sekejam itukah aku pada diriku sendiri?
"Hei, mengapa masih bertanya? Padahal pertanyaan itu telah berulangkali kau ucap, kau tanyakan nyaris seumur tahun yang kau habiskan untuk bernafas di bumi ini. Kau aniaya dirimu sendiri dengan penyesalan yang kau cari sendiri, luka yang kau biarkan basah dan perih, hingga menginfeksi sisi-sisi relung...sampai-sampai kau sendiri tak menemukan penyembuhnya? Sungguh, kau tak patut membiarkan itu. Luka yang harusnya tak memakan waktu lama untuk menyembuhkan dirinya, mestinya telah mengering dan tak berbekas."
Serentetan petuah itu, ia hampir selalu tahu apa yg kupikirkan.
Aku hanya menunduk mendengar segala ucapannya. Penggalan-penggalan cerita hilir-mudik hadir.
Ah, entahlah!
Mengapa aku tak memahami semua ini? Aku tak berdaya berdiri menatap angkasa, berteriak sekuatnya menanyakan : "Mengapa, Tuhan...???"
Tak pantas kumenanyakan takdirNya, rahasiaNya. Suratan itu toh telah tertulis dengan tintaNya. Aku hanyalah hamba yang tak mengerti. Layaknya bayi mungil dengan wajah lucu tanpa dosa yang hanya mampu memandang sekitarnya dengan keluguan dan kenaifan.
"Tidak, sekarang itu bukan rahasia lagi. Kau akan tahu semuanya." Suaranya terdengar kembali. Aku mengangkat wajah.
Kemudian hari-hari setelahnya, aku mencari obat penawar luka itu. Luka yang telah menjadi infeksi meluas... Mencari dari negeri ke negeri, berjalan...berjalan...tak kuhitung lagi bulan-bulan dan tahun-tahun yang terlewati. Seolah kaki ini tak mau berhenti melangkah. Lelah menyergap, aku letih.
Kesadaranku perlahan menyusup masuk, dalam...semakin dalam...
Kubuka mata perlahan. Kulihat luka itu kembali, luka yang kini telah hampir tak berbekas. Inikah keajaibanMu Tuhan? Bertahun-tahun kuhabiskan usia menanti kesembuhan yang rasa-rasanya cukup membuat daya tahan tubuh ini terkuras. Kini nyaris sirna tak teraba indera.
"Benar," sahutnya. Ia telah hadir dihadapanku lagi.
Sejak kapan Ia ada di sini? Hanya kujawab dengan senyum.
"Sudah hampir sembuh," lanjutnya. "Suatu saat akan hilang...sirna. Kau tahu?"
Sepi menyeruak. Dalam hening kupahami perkataannya.
"Ya, aku tahu." suaraku lirih.
"Dengar, tahukah kamu? Luka yang tak kausangka dapat sembuh kini sebentar lagi tak berbekas sedikit pun?" Diam..
"Apakah kau sadar jika ini cuma secuil saja dari karuniaNya, yang tak kau sangka kehadirannya?" ujarnya menerawang mirip seorang Kakek yang mendongeng kepada cucunya.
"Hidup ini berisi perenungan panjang, ketegaran dan kekuatan harus kau miliki agar tak larut dalam luka. Akan selalu ada luka, ada airmata, bahkan darah. Dan kamu tak perlu khawatir dengan semua itu. Tetaplah beramal sholih dalam bingkai Rahman RahimNya." Ia terdiam, menoleh padaku. "Saya yakin kamu siap untuk itu."
Termangu, memandang awan tipis yg perlahan berarak...semakin memperlihatkan cerahnya langit biru bersih. Angin sejuk menerpa tubuhku, seolah hendak memberiku kekuatan serta membisikkan kata, "Tersenyumlah, bahagialah."
"Pasti." jawabku dalam bisikan pula.
by MILA.NZ
*Penggalan kisah
Repost dari FB Mila Nurhayati tanggal 6 Maret 2016

No comments:
Post a Comment