Thursday, 7 March 2019

#Kisah

HARAP


Tanpa terasa waktu bergulir... detak jam yang tak mungkin bisa dihentikan mengantarkan kepada pergantian hari demi hari. Tak ayal menitikkan sedikit kegelisahan akan terwujudnya suatu impian.

Apakah niatku ini dapat terwujud? Niat akan menjalani suatu perjalanan, berziarah ke tempat yang telah lama ada dalam ruang harapan. Kekuatan tarik-menarik telah kurasakan sejak dulu. Saya ingin ke sana. Meskipun tak tahu mengapa. Mengapa?
Yah, saya pun tak terlalu paham saat itu.

Namun perjalanan waktu perlahan membuka sedikit demi sedikit tabir yang dulu sama sekali tak kupahami. Satu per satu pesan terurai... Membuatku terkesima. Sepanjang inikah jalan yang kutempuh untuk membuat tabir itu sedikit demi sedikit membuka? Berapa hari, bulan, tahun...? Ternyata seumur hidupku ini, puluhan tahun!

Suatu kesempatan kupikir merupakan pintu pembuka ke sana. Melalui pesan Ayahanda kepadaku. Tak ada sesuatu pun di dunia ini yang kebetulan. Sehelai daun pun jatuh ke bumi karena perintah dariNya. Menuntutku merentangkan harapan kembali. Mengadakan perjalanan!

Perjalanan yang jika dipikir secara matematis...entahlah! Sanggupkah?
Namun saya yang seperti biasa berharap akan "kebaikan selalu menghampiri dari niat yang baik", merasa sanggup menapaki semuanya. Walau yang "tak masuk akal" sekali pun. Seperti kejadian sebelum-sebelumnya.
Dan..beberapa sudah terlaksana, terwujud, meski harus menunggu sekian tahun.

Juga kali ini.
Bukankah bagi Allah segala hal bisa saja terjadi?
Apa yang tidak mungkin bagiNya?
Seluruh semesta adalah milikNya.
Apa sulitnya untuk mengantarkan seorang hambaNya kepada suatu tempat?

Suatu tempat... diantara tempat-tempat lainnya yang menjadi harapan bagiku. Harapan untuk tiba di sana. Seolah ingin membuktikan kebesaranMu, yang sebenarnya tak perlu lagi pembuktian itu.
Kuingin sampai di tempat-tempat itu. Walau bagi sebagian orang, saya hanya mengukir angan, merajut mimpi, dan belum terbangun dari tidur panjang.

Namun tak pernah surut keyakinan untuk membuat itu semua menjadi kenyataan. Saya yakin, semua hanya masalah waktu, masa. Semua ada masanya.
Masa yang hanya Ia yang tahu. Namun yang kutahu, Ia selalu mengabulkan do'a hambaNya. Selalu ada hadiah yang Ia berikan kepada setiap makhluknya sepanjang kehidupannya.

Hadiah yang akan diterima jika sang penerima telah "pantas" memperolehnya. Kadang hadiah itu diantar dengan penantian yang tak terduga waktunya
Kadang hadiah itu diberi bersamaan letih jiwa raga mencapainya
Kadang hadiah itu dibungkus oleh kertas cantik yang untuk membukanya membutuhkan kebeningan hati agar tak merusak yang ada di dalamnya
Kadang hadiah itu berbungkus sesuatu yang tak pernah disangka sebelumnya..begitu perih, sehingga hampir membuat berpaling dari harapan akan sesuatu yang lebih besar menanti setelahnya.

Apapun itu, harap ini tetap kusimpan...
menunggu keajaiban itu menyapa.

Makassar, 8 Maret 2019




Lokasi : dalam perjalanan kereta api dari Jakarta menuju Bandung, 2017.


#Kisah

DI MANAKAH BAHAGIA ITU?

Membuka jendela kamar, udara pagi yang dingin dan bersih menerpa memenuhi ruang. Seketika kesejukan mengalir ke seluruh rongga tubuh...

Melihat pemandangan seperti ini dari balik jendela, atau sembari duduk di teras menikmati secangkir teh hangat, bersama buku favorit dan alunan musik lembut...sungguh, "Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Di sini ada beberapa pohon yang daunnya bisa langsung dijadikan teh. Ia menciptakan sesuatu selalu memiliki manfaat, manusialah yang harus menemukan dan mengkaji manfaat apa yang Ia titipkan di dalamnya.

Beberapa pohon yang menjadi penghuni halaman ini "mengikhlaskan dirinya" untuk dipetik langsung sebagai bahan teh atau ramuan herbal, seperti : daun murbei, daun Afrika Selatan, daun salam, daun kelor, daun bidara, Rosemary dan daun Tin. Sekali lagi, "Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Disekitar keberadaan suatu makhluk sebenarnya selalu bersama ayat-ayat dariNya yang Ia sediakan untuk mencukupi kebutuhan, meriangkan hati dan membahagiakan.

Kata orang...
"Bahagia itu sederhana."
"Hidup itu sederhana."
"Tak ada yang namanya masalah, semua bisa disederhanakan."
Benarkah?

Kadang bilang bahagia itu sederhana... tapi ketika suatu keinginan saja belum terwujud, atau ketika uang di kantong menipis, semua buyar... di mana bahagia itu?
Hilang?

Ketika masalah datang...hati gelisah, pikiran jadi ruwet, emosi memuncak. Ke mana hidup yang sederhana itu?
Lenyap?

Yang sederhana itu penyikapannya. Pemikiran, perenungan dan reaksi terhadap suatu realita. Sebagai pesan dariNya. Cinta kasihNya.
Sederhana yang lahir dari keheningan hati akan jawaban,
"Kehidupan ini dari mana dan akan ke mana?"

Lamat terdengar alunan syair Dewa 19...

".....Hadapi dengan senyuman
Semua yang terjadi biar terjadi
Hadapi dengan tenang jiwa
Semua 'kan baik-baik saja

Bila ketetapan Tuhan
Sudah ditetapkan
Tetaplah sudah
Tak ada yang bisa merubah
Dan takkan bisa berubah

Relakanlah saja ini
Bahwa semua yang terbaik
Terbaik untuk kita semua
Menyerahlah untuk menang........"

*Catatan pagiku yang masih berbenah dan belajar.

Repost dari FB Mila Nurhayati
Tanggal 8 Maret 2019



#Kisah

LUKA

Jadi, inikah realita itu? Sungguh sesuatu yang tak disangka, tak terduga, tak terbayangkan sebelumnya. Bahkan terlintas sekalipun. Sungguh..!

Kuhanyut dirangkul keterkejutan. Bukan hanya terkejut, namun menderaku dalam ketidakpercayaan dan ketakjuban tak berkesudahan.

Kudesak diriku untuk bangkitkan kesadaran yang selama ini hampir-hampir terabaikan. Wujud diri sendiripun seolah tak kuanggap keberadaannya. Sekejam itukah aku pada diriku sendiri?

"Hei, mengapa masih bertanya? Padahal pertanyaan itu telah berulangkali kau ucap, kau tanyakan nyaris seumur tahun yang kau habiskan untuk bernafas di bumi ini. Kau aniaya dirimu sendiri dengan penyesalan yang kau cari sendiri, luka yang kau biarkan basah dan perih, hingga menginfeksi sisi-sisi relung...sampai-sampai kau sendiri tak menemukan penyembuhnya? Sungguh, kau tak patut membiarkan itu. Luka yang harusnya tak memakan waktu lama untuk menyembuhkan dirinya, mestinya telah mengering dan tak berbekas."

Serentetan petuah itu, ia hampir selalu tahu apa yg kupikirkan.

Aku hanya menunduk mendengar segala ucapannya. Penggalan-penggalan cerita hilir-mudik hadir.
Ah, entahlah!
Mengapa aku tak memahami semua ini? Aku tak berdaya berdiri menatap angkasa, berteriak sekuatnya menanyakan : "Mengapa, Tuhan...???"
Tak pantas kumenanyakan takdirNya, rahasiaNya. Suratan itu toh telah tertulis dengan tintaNya. Aku hanyalah hamba yang tak mengerti. Layaknya bayi mungil dengan wajah lucu tanpa dosa yang hanya mampu memandang sekitarnya dengan keluguan dan kenaifan.

"Tidak, sekarang itu bukan rahasia lagi. Kau akan tahu semuanya." Suaranya terdengar kembali. Aku mengangkat wajah.

Kemudian hari-hari setelahnya, aku mencari obat penawar luka itu. Luka yang telah menjadi infeksi meluas... Mencari dari negeri ke negeri, berjalan...berjalan...tak kuhitung lagi bulan-bulan dan tahun-tahun yang terlewati. Seolah kaki ini tak mau berhenti melangkah. Lelah menyergap, aku letih.

Kesadaranku perlahan menyusup masuk, dalam...semakin dalam...
Kubuka mata perlahan. Kulihat luka itu kembali, luka yang kini telah hampir tak berbekas. Inikah keajaibanMu Tuhan? Bertahun-tahun kuhabiskan usia menanti kesembuhan yang rasa-rasanya cukup membuat daya tahan tubuh ini terkuras. Kini nyaris sirna tak teraba indera.

"Benar," sahutnya. Ia telah hadir dihadapanku lagi.
Sejak kapan Ia ada di sini? Hanya kujawab dengan senyum.
"Sudah hampir sembuh," lanjutnya. "Suatu saat akan hilang...sirna. Kau tahu?"
Sepi menyeruak. Dalam hening kupahami perkataannya.
"Ya, aku tahu." suaraku lirih.
"Dengar, tahukah kamu? Luka yang tak kausangka dapat sembuh kini sebentar lagi tak berbekas sedikit pun?" Diam..
"Apakah kau sadar jika ini cuma secuil saja dari karuniaNya, yang tak kau sangka kehadirannya?" ujarnya menerawang mirip seorang Kakek yang mendongeng kepada cucunya.
"Hidup ini berisi perenungan panjang, ketegaran dan kekuatan harus kau miliki agar tak larut dalam luka. Akan selalu ada luka, ada airmata, bahkan darah. Dan kamu tak perlu khawatir dengan semua itu. Tetaplah beramal sholih dalam bingkai Rahman RahimNya." Ia terdiam, menoleh padaku. "Saya yakin kamu siap untuk itu."

Termangu, memandang awan tipis yg perlahan berarak...semakin memperlihatkan cerahnya langit biru bersih. Angin sejuk menerpa tubuhku, seolah hendak memberiku kekuatan serta membisikkan kata, "Tersenyumlah, bahagialah."
"Pasti." jawabku dalam bisikan pula.

by MILA.NZ
*Penggalan kisah
Repost dari FB Mila Nurhayati tanggal 6 Maret 2016


Tuesday, 19 February 2019

#Refleksi

TIPUAN


Sungguh sebenarnya hidup itu dipenuhi pilihan-pilihan. Saat bangun tidur saja kita sudah dihadapkan pilihan : melakukan apa? Lalu serangkaian "ritual" bangun tidur telah menanti...apa yang mau dilakukan setelah membuka mata : berdo'a dan seterusnya? Melompat dari tempat tidur? Cek HP? Apa lagi? Begitu banyaknya pilihan-pilihan itu. Pilihan yang penentuannya sangat didasari oleh banyak hal, diantaranya : tujuan hidup. 

Mengapa tujuan hidup? Karena segala yang dilakukan dalam hidup ini, keputusan-keputusan yang diambil, penentuan pilihan, semua berdasarkan pemaknaan individu tersebut terhadap tujuan hidupnya. Lantas, apa tujuan hidupmu? Seperti apa ilustrasi tujuan itu dalam pikiranmu selama ini? 

Sudahkah penelurusan itu tiba pada pertanyaan besar : 
"Engkau dari mana, dan akan ke mana?"
"Kamu sebenarnya siapa?"
"Unsur apa saja yang ada dalam dirimu?"
"Siapa saja yang mendiami dirimu?"
"Sudah kenalkah kamu kepada yang ada dalam dirimu?"

Apa jawabmu...?
Sampai pada bilangan usia ini, sudahkah Engkau menemukan jawabannya?
Jika belum, Di manakah jawaban itu dapat diperoleh?
Jangan sampai usia telah tiba namun jawaban itu belum juga ditemukan.
Baiklah ini sekedar pengingat bagi saya.

Kembali pada pilihan-pilihan... begitu rumitnyakah menentukan pilihan itu? Sehingga begitu banyak yang terombang-ambing oleh berbagai realitas tak menentu disuguhkan oleh tipuan kefanaan dunia yang memang salah satu tugasnya "mengelabui" manusia? Sejak zaman manusia pertama kali diciptakan, begitu pula serbuan pilihan itu demikian kejamnya hingga membuat siapa saja bisa terpedaya. Seringkali membuat terlena... Padahal banyak diantaranya hanyalah tipuan.

Allah SWT berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu mengering dan kamu lihat warnanya menguning lalu hancur. Dan, di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadiid [57] : 20)

Tuntunlah langkah kaki kami, detak jantung kami, setiap pilihan yang kami tempuh, setiap keputusan yang ditetapkan...senantiasa dalam genggamanMu, arahanMu, kasih sayangMu, RidhaMu, tercurahkan kepada kami..

"Yaa ayyatuhan nafsul muthma-innah. Irji’ii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah. Fadhulii fii ‘ibaadii. Wadhulii jannatii.

Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS al-Fajr [89]: 27-30).





Pict taken by : Akilrah, edited by : Milan.
Lokasi : Pantai Seminyak, Bali. Tahun 2011.
Makassar, 19 Februari 2019.

Monday, 18 February 2019

#Refleksi

Teman Berjalan

Hidup layaknya panggung sandiwara. Dari sandiwara  yang satu, ke sandiwara yang lain. Dari alur yang satu, ke alur lainnya. Dari skenario satu, berlanjut ke skenario berikutnya. Kadang menjadi bagian dari tokoh-tokoh pemain, pemeran utama ataukah figuran hingga hanya numpang lewat, terkadang berada diantara serombongan penonton atau sekadar turut meramaikan tanpa tujuan jelas. Tak jarang mendapatkan decak kagum dan riuh apresiasi, tak jarang pula hanya memberikan tepukan tangan dari lakon yang dipersembahkan.

Hidup tak ubahnya perjalanan dari satu pohon sebagai tempat beristirahat ke pohon lainnya. Berjalan menyusuri setapak demi setapak. Kadang jalan itu lurus, kadang berkelok serta terjal. Terkadang jalan itu lapang dan mulus, tak jarang sempit dan penuh bebatuan. Kala jenuh atau lelah melanda, berhenti sejenak pada suatu pohon yang teduh sekedar mengurai kepenatan serta mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan kembali.

“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tak lain, kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon untuk beristirahat sejenak, lalu meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi No. 2377) 

Perjalanan yang entah hingga kapan berakhir. Perjalanan yang harus ditempuh sepanjang waktu namun bukan untuk pergi, melainkan untuk pulang. Pulang ke tempat di mana setiap kehidupan berasal. Pulang menemui yang mencintaimu, yang mengasihimu, pemilik jiwa.

Rasulullah SAW bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari No. 6416)

Masing-masing makhluk memiliki lintasannya sendiri, jalannya sendiri, tak ada satu pun berada pada garis yang sama. Dengan pemandangan yang hanya Ia sendiri yang bisa merasakannya, melihatnya, memetik buahnya agar menjadikannya bekal dalam perjalanan berikutnya. Bekal  bisa saja selalu tersedia untuknya, namun tak menutup kemungkinan membutuhkan sekian lama bahkan tak kunjung ditemui. Apakah menemukan air jernih nan sejuk serta aneka buah-buahan yang manis dan segar? Ataukah sebaliknya? Atau tidak menemukan sama sekali? 

Ada yang senantiasa menemukan bekal dalam perjalannya, ada yang hanya sedikit saja bahkan kegersangan senantiasa melanda sepanjang lintasan yang dilalui. Tanpa air, tanpa buah-buahan, tanpa kawan-kawan penghuni semesta yang menemani.

Mereka ada di mana saja...mereka bisa berupa apa saja...mereka bisa datang dari mana saja...tak terbatas ruang dan waktu...tak terlintas dalam benakmu sebelumnya. Mereka selalu menemani, senantiasa hadir tanpa engkau memintanya, mereka senang mendekatimu, tanpa memohon sekalipun mereka siap membantumu.

Mereka merupakan amalan, kerjernihan qalb, keteguhan yang selama ini engkau genggam dalam menerima segala ketentuanNya, penerimaan tanpa mempertanyakan lagi betapa pedih dan perih masa demi masa saat berjalan menelusuri lintasanNya. Mereka hadir tanpa diminta...karena cahayamu yang membuat mereka menemukanmu.

Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih benar-benar akan Kami masukkan ke dalam (golongan) orang-orang yang salih (QS al-Ankabut [29]: 9). 





Foto : Milan
Lokasi : RS. Unhas, Makassar. Januari 2019
Makassar 19 Februari 2019.

Tuesday, 29 January 2019

#Kisah

IZINKAN SAYA...


Hari ini, di sini, merasakan kembali suatu "kehidupan" di mana banyak orang-orang sakit berada. Di suatu tempat yang bernama "Rumah Sakit". Tempat seperti ini mungkin terkesan biasa saja bagi sebagian orang. Namun tidak bagi saya.

Saat memasuki suatu rumah sakit, langsung terasa atmosfer yang berbeda. Ya, tentulah setiap tempat memiliki atmosfernya masing-masing. Di sini, berbagai pemandangan yang tak biasa ditemui, bisa saya saksikan. Keadaan para pasien dengan berbagai kondisinya. Ada yang sakit biasa saja, sakit yang lebih berat, pasien yang datang dengan status "emergency" karena berbagai sebab, pasien yang dalam keadaan sekarat, hingga tangisan-tangisan keluarga pasien yang baru saja kehilangan anggota keluarganya. Sungguh suasana ini kadang membuatku merinding. Saya dapat merasakan sentuhan energinya. Getaran sedih, pilu, menyayat hati. Saat-saat akan pulang itu tiba, pulang keharibaanNya. Memandangi sosok yang tadinya bernafas dan bernyawa itu kini telah diam tak bergerak, ia lepas...pulang kepada Sang Pemilik ruh. Pemandangan seperti ini tak jarang menyentakku ketika berada pada suatu tempat yang bernama Rumah Sakit.

Setiap yang bernyawa pasti akan melaluinya. Setiap amanah pasti kembali kepada yang memberi amanah. Semua hanya titipan. Pun ruh ini, jiwa ini, jasad ini.

Saya bersyukur telah merasakan berbagai karunia yang telah diberikanNya kepadaku. Karunia berupa "sakit" fisik dan psikis. Walau saya kurang sepakat dengan istilah "sakit" itu sendiri. Bagi saya, apa pun yang terjadi dalam hidup semua adalah hidanganMu yang harus diterima dan dinikmati dengan sepenuh hati, dengan keikhlasan tiada tara. Pantaskah sebagai makhluk ciptaan Allah untuk tidak menyukai bahkan benci atas ketetapanNya? Pantaskah sebagai makhluk, menolak takdir?

Saat terdiam, menatap kembali perjalanan yang telah kulalui selama ini, tak ada yang saya sesali bahkan tangisi. Tak seperti waktu-waktu yang telah lalu. Ketika berbagai ujian hidup membuat hati ini sempat kehilangan arah. Perih, pedih dan pahitnya serasa tak sanggup lagi dipikul. Hingga terselip ratapan, penyesalan, kesedihan tak berkesudahan. Namun Engkau sungguh Maha Pengasih...Engkau rangkul diriku dalam kepasrahan munajat yang tak pernah putus kupersembahkan untukMu. Munajat dari seorang hamba yang masih banyak kekurangan, masih sangat jauh dariMu, masih mudah terkesima oleh kilauan pesona duniawi yang semu, masih mengejar Ilusi yang entah kan bermuara ke mana. Padahal Engkau selalu ada untukKu, Engkau salalu mengiringi ke manapun hambaMu ini melangkahkan kaki, di setiap tarikan nafas dan detak jantungku.

AnugerahMu sangat besar untukku, bahkan banyak hadiah yang Engkau berikan untuk yang tak semua hambaMu miliki. Jika saya ceritakan kepada orang lain pun mereka sangat sulit untuk percaya. Apakah masih pantas saya mengeluh? Masih pantas mempertanyakan ujian yang Engkau berikan?

Semua sudah menjadi sejarah hidup yang bagaimana pun akan  kukenang sebagai pengalaman batin yang tak ternilai. Semua telah berlalu. Jika dulu saya pernah merasa sakit fisik maupun psikis, izinkan saya kini mendampingi siapa pun yang membutuhkan, menjadi perantara uluran tanganMu kepada hamba-hambaMu, mendampingi, menemani, membantu orang-orang terkasih, siapa pun...kuingin menjadi manfaat dan kebahagiaan bagi sesama. Sehatkan saya selalu Rabb......
Bersama menemani Bapak, di sini..

Dan sungguh akan Kami berikan ujian atau cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. (Q.S Al-Baqarah: 155)

"Robbana afrigh 'alaina shobron watawaffana muslimin.
Ya Tuhan kami, limpahkan kesabaran kepada kami dan wafatkan kami dalam keadaan berserah diri kepadaMu." (Q.S. [7] : Al A'rof : 126)





Pict : Milan
Lokasi : Rammang -Rammang, Maros. 1 Januari 2018

Rumah Sakit UNHAS
Makassar, 30 Januari 2019


Saturday, 19 January 2019

#Refleksi
 SMS



Pada suatu siang saya ke warung campuran yang berada tak jauh dari rumahku untuk mencari suatu keperluan. Begitu melihatku, Bi Surti menyambut dengan senyum, "Baru kelihatan lagi nih Mama Difa?" sapanya sembari membenahi dagangan di warungnya yang tak seberapa luas. Warung sekaligus tempat tinggalnya dengan bangunan yang belum permanen, nampak didominasi kayu dan seng, yang bila siang hari akan terasa panas menyengat kulit. "Iya bi Surti...sudah cukup lama ya saya ga ke mari." jawabku. Kami sudah cukup akrab, usianya pun tak jauh beda denganku. Seorang ibu yang tangguh dengan bekal pendidikan yang tak tamat Sekolah Dasar.

Mataku seketika singgah ke suatu benda baru di situ... sebuah lemari freezer (untuk es batu dan beragam es lainnya). "Wah freezer baru ya bi Surti? Alhamdulillaah, jadi bisa muat banyak es dan bikin es batu yang banyak," celetuk saya, merasa senang juga melihat kemajuan warung bu Surti. Bi Surti tertawa..."Ah, ini freezer bekas saja kok...mumpung orangnya menjual dengan harga yang lumayan murah." Saya manggut-manggut, "Jadi sekarang makin lengkap dong jenis es yang dijual, jadi makin banyak pelanggan." selorohku.
"Hahaha....Alhamdulillaah... yah, tapiii... ada yang lucu." Katanya sembari tertawa.
"Lho, lucu bagaimana?" ujarku bingung
"Itu...saya yang beli freezer, warung sebelah yang 'kedinginan'." sahutnya tersenyum penuh arti.
"Hahaha...ah masa sih bi Surti..?? Kok ga sekalian saja itu orang dimasukin freezer biar beku! Eehhh...maksudnya, do'akan saja biar warungnya laris juga dan hatinya selalu lapang."

Ungkapan "Senang melihat orang susah atau susah melihat orang senang" atau biasa disingkat SMS,  tak bisa dipungkiri menjadi fenomena yang bisa ada di mana saja dan terjadi pada siapa saja. Tak jarang, orangnya sendiri pun tak menyadari bila ia dihinggapi salah satu "penyakit hati" ini. Penyakit hati bernama iri mudah terjangkit oleh siapa saja, yang penyebabnya sangat beragam. Iri bisa mencuat dari keinginan untuk memiliki apa yang orang lain miliki, namun ia tak sanggup untuk mencapainya sehingga menimbulkan kecemburuan. Bila kecemburuan ini tak terbendung lagi, muncullah sikap seperti memusuhi orang yang dicemburui, menjatuhkan, merebut apa yang orang itu miliki.

Ada yang menyamakan istilah "iri" dan "dengki", ada pula yang mengatakan seseorang disebut "dengki" bila ada action untuk merebut apa yang dimiliki oleh orang lain yang ia tidak suka jika orang itu memilikinya. Bila masih berupa perasaan atau sikap, belum dikatakan sebagai dengki. 

Parrott, W. G., & Smith, R. H dalam Wikipedia mendefinisikan Iri hati (bahasa Inggris: envy, bahasa Latin: invidia), terkadang disebut juga dengki atau hasad, adalah suatu emosi yang timbul ketika seseorang yang tidak memiliki suatu keunggulan—baik prestasi, kekuasaan, atau lainnya—menginginkan yang tidak dimilikinya itu, atau mengharapkan orang lain yang memilikinya agar kehilangannya.

Hanya satu cara agar penyakit hati satu ini tak hinggap mengotori batin, yaitu selalu bersyukur. Kelihatannya mudah? Tentu tidak, tidak mudah! Rasa syukur tak mudah begitu saja diucapkan, apalagi diwujudkan. Syukur itu suatu tahapan tangga tinggi yang dicapai dengan penuh perjuangan dan pengalaman batin yang mumpuni. Jadi bagaimana? Apa mungkin mencapai syukur itu? Sangat mungkin! Namun sekali lagi, tak ada sesuatu yang luar biasa dicapai dengan cara "biasa-biasa" saja. Selalu berusaha meredam keinginan besar di luar kesanggupan, itu sudah sebuah langkah awal. Bukan berarti tak boleh mempunyai harapan atau cita-cita. Namun disertai usaha, do'a, realistis menerima keadaan, lebih banyak bersabar dan bersabar...."

"Dan janganlah kau iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu. (Q.S. An Nisaa' : 32)


Mila Zees
Foto : Milan/Maret 2018.

Makassar, 20 Januari 2019.


 #REFLEKSI                                                                      PESANMU..... "Nak... Jauhilah prasangka buruk kepada si...