#Refleksi
Hidup layaknya panggung sandiwara. Dari sandiwara yang satu, ke sandiwara yang lain. Dari alur yang satu, ke alur lainnya. Dari skenario satu, berlanjut ke skenario berikutnya. Kadang menjadi bagian dari tokoh-tokoh pemain, pemeran utama ataukah figuran hingga hanya numpang lewat, terkadang berada diantara serombongan penonton atau sekadar turut meramaikan tanpa tujuan jelas. Tak jarang mendapatkan decak kagum dan riuh apresiasi, tak jarang pula hanya memberikan tepukan tangan dari lakon yang dipersembahkan.
Teman Berjalan
Hidup layaknya panggung sandiwara. Dari sandiwara yang satu, ke sandiwara yang lain. Dari alur yang satu, ke alur lainnya. Dari skenario satu, berlanjut ke skenario berikutnya. Kadang menjadi bagian dari tokoh-tokoh pemain, pemeran utama ataukah figuran hingga hanya numpang lewat, terkadang berada diantara serombongan penonton atau sekadar turut meramaikan tanpa tujuan jelas. Tak jarang mendapatkan decak kagum dan riuh apresiasi, tak jarang pula hanya memberikan tepukan tangan dari lakon yang dipersembahkan.
Hidup tak ubahnya perjalanan dari satu pohon sebagai tempat beristirahat ke pohon lainnya. Berjalan menyusuri setapak demi setapak. Kadang jalan itu lurus, kadang berkelok serta terjal. Terkadang jalan itu lapang dan mulus, tak jarang sempit dan penuh bebatuan. Kala jenuh atau lelah melanda, berhenti sejenak pada suatu pohon yang teduh sekedar mengurai kepenatan serta mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan kembali.
“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tak lain, kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon untuk beristirahat sejenak, lalu meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi No. 2377)
Perjalanan yang entah hingga kapan berakhir. Perjalanan yang harus ditempuh sepanjang waktu namun bukan untuk pergi, melainkan untuk pulang. Pulang ke tempat di mana setiap kehidupan berasal. Pulang menemui yang mencintaimu, yang mengasihimu, pemilik jiwa.
Rasulullah SAW bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari No. 6416)
“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tak lain, kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon untuk beristirahat sejenak, lalu meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi No. 2377)
Perjalanan yang entah hingga kapan berakhir. Perjalanan yang harus ditempuh sepanjang waktu namun bukan untuk pergi, melainkan untuk pulang. Pulang ke tempat di mana setiap kehidupan berasal. Pulang menemui yang mencintaimu, yang mengasihimu, pemilik jiwa.
Rasulullah SAW bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari No. 6416)
Masing-masing makhluk memiliki lintasannya sendiri, jalannya sendiri, tak ada satu pun berada pada garis yang sama. Dengan pemandangan yang hanya Ia sendiri yang bisa merasakannya, melihatnya, memetik buahnya agar menjadikannya bekal dalam perjalanan berikutnya. Bekal bisa saja selalu tersedia untuknya, namun tak menutup kemungkinan membutuhkan sekian lama bahkan tak kunjung ditemui. Apakah menemukan air jernih nan sejuk serta aneka buah-buahan yang manis dan segar? Ataukah sebaliknya? Atau tidak menemukan sama sekali?
Ada yang senantiasa menemukan bekal dalam perjalannya, ada yang hanya sedikit saja bahkan kegersangan senantiasa melanda sepanjang lintasan yang dilalui. Tanpa air, tanpa buah-buahan, tanpa kawan-kawan penghuni semesta yang menemani.
Mereka ada di mana saja...mereka bisa berupa apa saja...mereka bisa datang dari mana saja...tak terbatas ruang dan waktu...tak terlintas dalam benakmu sebelumnya. Mereka selalu menemani, senantiasa hadir tanpa engkau memintanya, mereka senang mendekatimu, tanpa memohon sekalipun mereka siap membantumu.
Mereka merupakan amalan, kerjernihan qalb, keteguhan yang selama ini engkau genggam dalam menerima segala ketentuanNya, penerimaan tanpa mempertanyakan lagi betapa pedih dan perih masa demi masa saat berjalan menelusuri lintasanNya. Mereka hadir tanpa diminta...karena cahayamu yang membuat mereka menemukanmu.
Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih benar-benar akan Kami masukkan ke dalam (golongan) orang-orang yang salih (QS al-Ankabut [29]: 9).
Mereka merupakan amalan, kerjernihan qalb, keteguhan yang selama ini engkau genggam dalam menerima segala ketentuanNya, penerimaan tanpa mempertanyakan lagi betapa pedih dan perih masa demi masa saat berjalan menelusuri lintasanNya. Mereka hadir tanpa diminta...karena cahayamu yang membuat mereka menemukanmu.
Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih benar-benar akan Kami masukkan ke dalam (golongan) orang-orang yang salih (QS al-Ankabut [29]: 9).
Foto : Milan
Lokasi : RS. Unhas, Makassar. Januari 2019
Makassar 19 Februari 2019.

No comments:
Post a Comment