Tuesday, 19 February 2019

#Refleksi

TIPUAN


Sungguh sebenarnya hidup itu dipenuhi pilihan-pilihan. Saat bangun tidur saja kita sudah dihadapkan pilihan : melakukan apa? Lalu serangkaian "ritual" bangun tidur telah menanti...apa yang mau dilakukan setelah membuka mata : berdo'a dan seterusnya? Melompat dari tempat tidur? Cek HP? Apa lagi? Begitu banyaknya pilihan-pilihan itu. Pilihan yang penentuannya sangat didasari oleh banyak hal, diantaranya : tujuan hidup. 

Mengapa tujuan hidup? Karena segala yang dilakukan dalam hidup ini, keputusan-keputusan yang diambil, penentuan pilihan, semua berdasarkan pemaknaan individu tersebut terhadap tujuan hidupnya. Lantas, apa tujuan hidupmu? Seperti apa ilustrasi tujuan itu dalam pikiranmu selama ini? 

Sudahkah penelurusan itu tiba pada pertanyaan besar : 
"Engkau dari mana, dan akan ke mana?"
"Kamu sebenarnya siapa?"
"Unsur apa saja yang ada dalam dirimu?"
"Siapa saja yang mendiami dirimu?"
"Sudah kenalkah kamu kepada yang ada dalam dirimu?"

Apa jawabmu...?
Sampai pada bilangan usia ini, sudahkah Engkau menemukan jawabannya?
Jika belum, Di manakah jawaban itu dapat diperoleh?
Jangan sampai usia telah tiba namun jawaban itu belum juga ditemukan.
Baiklah ini sekedar pengingat bagi saya.

Kembali pada pilihan-pilihan... begitu rumitnyakah menentukan pilihan itu? Sehingga begitu banyak yang terombang-ambing oleh berbagai realitas tak menentu disuguhkan oleh tipuan kefanaan dunia yang memang salah satu tugasnya "mengelabui" manusia? Sejak zaman manusia pertama kali diciptakan, begitu pula serbuan pilihan itu demikian kejamnya hingga membuat siapa saja bisa terpedaya. Seringkali membuat terlena... Padahal banyak diantaranya hanyalah tipuan.

Allah SWT berfirman, “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu mengering dan kamu lihat warnanya menguning lalu hancur. Dan, di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadiid [57] : 20)

Tuntunlah langkah kaki kami, detak jantung kami, setiap pilihan yang kami tempuh, setiap keputusan yang ditetapkan...senantiasa dalam genggamanMu, arahanMu, kasih sayangMu, RidhaMu, tercurahkan kepada kami..

"Yaa ayyatuhan nafsul muthma-innah. Irji’ii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah. Fadhulii fii ‘ibaadii. Wadhulii jannatii.

Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS al-Fajr [89]: 27-30).





Pict taken by : Akilrah, edited by : Milan.
Lokasi : Pantai Seminyak, Bali. Tahun 2011.
Makassar, 19 Februari 2019.

Monday, 18 February 2019

#Refleksi

Teman Berjalan

Hidup layaknya panggung sandiwara. Dari sandiwara  yang satu, ke sandiwara yang lain. Dari alur yang satu, ke alur lainnya. Dari skenario satu, berlanjut ke skenario berikutnya. Kadang menjadi bagian dari tokoh-tokoh pemain, pemeran utama ataukah figuran hingga hanya numpang lewat, terkadang berada diantara serombongan penonton atau sekadar turut meramaikan tanpa tujuan jelas. Tak jarang mendapatkan decak kagum dan riuh apresiasi, tak jarang pula hanya memberikan tepukan tangan dari lakon yang dipersembahkan.

Hidup tak ubahnya perjalanan dari satu pohon sebagai tempat beristirahat ke pohon lainnya. Berjalan menyusuri setapak demi setapak. Kadang jalan itu lurus, kadang berkelok serta terjal. Terkadang jalan itu lapang dan mulus, tak jarang sempit dan penuh bebatuan. Kala jenuh atau lelah melanda, berhenti sejenak pada suatu pohon yang teduh sekedar mengurai kepenatan serta mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan kembali.

“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tak lain, kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon untuk beristirahat sejenak, lalu meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi No. 2377) 

Perjalanan yang entah hingga kapan berakhir. Perjalanan yang harus ditempuh sepanjang waktu namun bukan untuk pergi, melainkan untuk pulang. Pulang ke tempat di mana setiap kehidupan berasal. Pulang menemui yang mencintaimu, yang mengasihimu, pemilik jiwa.

Rasulullah SAW bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari No. 6416)

Masing-masing makhluk memiliki lintasannya sendiri, jalannya sendiri, tak ada satu pun berada pada garis yang sama. Dengan pemandangan yang hanya Ia sendiri yang bisa merasakannya, melihatnya, memetik buahnya agar menjadikannya bekal dalam perjalanan berikutnya. Bekal  bisa saja selalu tersedia untuknya, namun tak menutup kemungkinan membutuhkan sekian lama bahkan tak kunjung ditemui. Apakah menemukan air jernih nan sejuk serta aneka buah-buahan yang manis dan segar? Ataukah sebaliknya? Atau tidak menemukan sama sekali? 

Ada yang senantiasa menemukan bekal dalam perjalannya, ada yang hanya sedikit saja bahkan kegersangan senantiasa melanda sepanjang lintasan yang dilalui. Tanpa air, tanpa buah-buahan, tanpa kawan-kawan penghuni semesta yang menemani.

Mereka ada di mana saja...mereka bisa berupa apa saja...mereka bisa datang dari mana saja...tak terbatas ruang dan waktu...tak terlintas dalam benakmu sebelumnya. Mereka selalu menemani, senantiasa hadir tanpa engkau memintanya, mereka senang mendekatimu, tanpa memohon sekalipun mereka siap membantumu.

Mereka merupakan amalan, kerjernihan qalb, keteguhan yang selama ini engkau genggam dalam menerima segala ketentuanNya, penerimaan tanpa mempertanyakan lagi betapa pedih dan perih masa demi masa saat berjalan menelusuri lintasanNya. Mereka hadir tanpa diminta...karena cahayamu yang membuat mereka menemukanmu.

Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih benar-benar akan Kami masukkan ke dalam (golongan) orang-orang yang salih (QS al-Ankabut [29]: 9). 





Foto : Milan
Lokasi : RS. Unhas, Makassar. Januari 2019
Makassar 19 Februari 2019.

Tuesday, 29 January 2019

#Kisah

IZINKAN SAYA...


Hari ini, di sini, merasakan kembali suatu "kehidupan" di mana banyak orang-orang sakit berada. Di suatu tempat yang bernama "Rumah Sakit". Tempat seperti ini mungkin terkesan biasa saja bagi sebagian orang. Namun tidak bagi saya.

Saat memasuki suatu rumah sakit, langsung terasa atmosfer yang berbeda. Ya, tentulah setiap tempat memiliki atmosfernya masing-masing. Di sini, berbagai pemandangan yang tak biasa ditemui, bisa saya saksikan. Keadaan para pasien dengan berbagai kondisinya. Ada yang sakit biasa saja, sakit yang lebih berat, pasien yang datang dengan status "emergency" karena berbagai sebab, pasien yang dalam keadaan sekarat, hingga tangisan-tangisan keluarga pasien yang baru saja kehilangan anggota keluarganya. Sungguh suasana ini kadang membuatku merinding. Saya dapat merasakan sentuhan energinya. Getaran sedih, pilu, menyayat hati. Saat-saat akan pulang itu tiba, pulang keharibaanNya. Memandangi sosok yang tadinya bernafas dan bernyawa itu kini telah diam tak bergerak, ia lepas...pulang kepada Sang Pemilik ruh. Pemandangan seperti ini tak jarang menyentakku ketika berada pada suatu tempat yang bernama Rumah Sakit.

Setiap yang bernyawa pasti akan melaluinya. Setiap amanah pasti kembali kepada yang memberi amanah. Semua hanya titipan. Pun ruh ini, jiwa ini, jasad ini.

Saya bersyukur telah merasakan berbagai karunia yang telah diberikanNya kepadaku. Karunia berupa "sakit" fisik dan psikis. Walau saya kurang sepakat dengan istilah "sakit" itu sendiri. Bagi saya, apa pun yang terjadi dalam hidup semua adalah hidanganMu yang harus diterima dan dinikmati dengan sepenuh hati, dengan keikhlasan tiada tara. Pantaskah sebagai makhluk ciptaan Allah untuk tidak menyukai bahkan benci atas ketetapanNya? Pantaskah sebagai makhluk, menolak takdir?

Saat terdiam, menatap kembali perjalanan yang telah kulalui selama ini, tak ada yang saya sesali bahkan tangisi. Tak seperti waktu-waktu yang telah lalu. Ketika berbagai ujian hidup membuat hati ini sempat kehilangan arah. Perih, pedih dan pahitnya serasa tak sanggup lagi dipikul. Hingga terselip ratapan, penyesalan, kesedihan tak berkesudahan. Namun Engkau sungguh Maha Pengasih...Engkau rangkul diriku dalam kepasrahan munajat yang tak pernah putus kupersembahkan untukMu. Munajat dari seorang hamba yang masih banyak kekurangan, masih sangat jauh dariMu, masih mudah terkesima oleh kilauan pesona duniawi yang semu, masih mengejar Ilusi yang entah kan bermuara ke mana. Padahal Engkau selalu ada untukKu, Engkau salalu mengiringi ke manapun hambaMu ini melangkahkan kaki, di setiap tarikan nafas dan detak jantungku.

AnugerahMu sangat besar untukku, bahkan banyak hadiah yang Engkau berikan untuk yang tak semua hambaMu miliki. Jika saya ceritakan kepada orang lain pun mereka sangat sulit untuk percaya. Apakah masih pantas saya mengeluh? Masih pantas mempertanyakan ujian yang Engkau berikan?

Semua sudah menjadi sejarah hidup yang bagaimana pun akan  kukenang sebagai pengalaman batin yang tak ternilai. Semua telah berlalu. Jika dulu saya pernah merasa sakit fisik maupun psikis, izinkan saya kini mendampingi siapa pun yang membutuhkan, menjadi perantara uluran tanganMu kepada hamba-hambaMu, mendampingi, menemani, membantu orang-orang terkasih, siapa pun...kuingin menjadi manfaat dan kebahagiaan bagi sesama. Sehatkan saya selalu Rabb......
Bersama menemani Bapak, di sini..

Dan sungguh akan Kami berikan ujian atau cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. (Q.S Al-Baqarah: 155)

"Robbana afrigh 'alaina shobron watawaffana muslimin.
Ya Tuhan kami, limpahkan kesabaran kepada kami dan wafatkan kami dalam keadaan berserah diri kepadaMu." (Q.S. [7] : Al A'rof : 126)





Pict : Milan
Lokasi : Rammang -Rammang, Maros. 1 Januari 2018

Rumah Sakit UNHAS
Makassar, 30 Januari 2019


Saturday, 19 January 2019

#Refleksi
 SMS



Pada suatu siang saya ke warung campuran yang berada tak jauh dari rumahku untuk mencari suatu keperluan. Begitu melihatku, Bi Surti menyambut dengan senyum, "Baru kelihatan lagi nih Mama Difa?" sapanya sembari membenahi dagangan di warungnya yang tak seberapa luas. Warung sekaligus tempat tinggalnya dengan bangunan yang belum permanen, nampak didominasi kayu dan seng, yang bila siang hari akan terasa panas menyengat kulit. "Iya bi Surti...sudah cukup lama ya saya ga ke mari." jawabku. Kami sudah cukup akrab, usianya pun tak jauh beda denganku. Seorang ibu yang tangguh dengan bekal pendidikan yang tak tamat Sekolah Dasar.

Mataku seketika singgah ke suatu benda baru di situ... sebuah lemari freezer (untuk es batu dan beragam es lainnya). "Wah freezer baru ya bi Surti? Alhamdulillaah, jadi bisa muat banyak es dan bikin es batu yang banyak," celetuk saya, merasa senang juga melihat kemajuan warung bu Surti. Bi Surti tertawa..."Ah, ini freezer bekas saja kok...mumpung orangnya menjual dengan harga yang lumayan murah." Saya manggut-manggut, "Jadi sekarang makin lengkap dong jenis es yang dijual, jadi makin banyak pelanggan." selorohku.
"Hahaha....Alhamdulillaah... yah, tapiii... ada yang lucu." Katanya sembari tertawa.
"Lho, lucu bagaimana?" ujarku bingung
"Itu...saya yang beli freezer, warung sebelah yang 'kedinginan'." sahutnya tersenyum penuh arti.
"Hahaha...ah masa sih bi Surti..?? Kok ga sekalian saja itu orang dimasukin freezer biar beku! Eehhh...maksudnya, do'akan saja biar warungnya laris juga dan hatinya selalu lapang."

Ungkapan "Senang melihat orang susah atau susah melihat orang senang" atau biasa disingkat SMS,  tak bisa dipungkiri menjadi fenomena yang bisa ada di mana saja dan terjadi pada siapa saja. Tak jarang, orangnya sendiri pun tak menyadari bila ia dihinggapi salah satu "penyakit hati" ini. Penyakit hati bernama iri mudah terjangkit oleh siapa saja, yang penyebabnya sangat beragam. Iri bisa mencuat dari keinginan untuk memiliki apa yang orang lain miliki, namun ia tak sanggup untuk mencapainya sehingga menimbulkan kecemburuan. Bila kecemburuan ini tak terbendung lagi, muncullah sikap seperti memusuhi orang yang dicemburui, menjatuhkan, merebut apa yang orang itu miliki.

Ada yang menyamakan istilah "iri" dan "dengki", ada pula yang mengatakan seseorang disebut "dengki" bila ada action untuk merebut apa yang dimiliki oleh orang lain yang ia tidak suka jika orang itu memilikinya. Bila masih berupa perasaan atau sikap, belum dikatakan sebagai dengki. 

Parrott, W. G., & Smith, R. H dalam Wikipedia mendefinisikan Iri hati (bahasa Inggris: envy, bahasa Latin: invidia), terkadang disebut juga dengki atau hasad, adalah suatu emosi yang timbul ketika seseorang yang tidak memiliki suatu keunggulan—baik prestasi, kekuasaan, atau lainnya—menginginkan yang tidak dimilikinya itu, atau mengharapkan orang lain yang memilikinya agar kehilangannya.

Hanya satu cara agar penyakit hati satu ini tak hinggap mengotori batin, yaitu selalu bersyukur. Kelihatannya mudah? Tentu tidak, tidak mudah! Rasa syukur tak mudah begitu saja diucapkan, apalagi diwujudkan. Syukur itu suatu tahapan tangga tinggi yang dicapai dengan penuh perjuangan dan pengalaman batin yang mumpuni. Jadi bagaimana? Apa mungkin mencapai syukur itu? Sangat mungkin! Namun sekali lagi, tak ada sesuatu yang luar biasa dicapai dengan cara "biasa-biasa" saja. Selalu berusaha meredam keinginan besar di luar kesanggupan, itu sudah sebuah langkah awal. Bukan berarti tak boleh mempunyai harapan atau cita-cita. Namun disertai usaha, do'a, realistis menerima keadaan, lebih banyak bersabar dan bersabar...."

"Dan janganlah kau iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu. (Q.S. An Nisaa' : 32)


Mila Zees
Foto : Milan/Maret 2018.

Makassar, 20 Januari 2019.


Monday, 14 January 2019

Pesawat Pembom Super TU-16

Bapak sering menceritakan pengalamannya mengenai banyak hal terutama masa mudanya, seperti saat menjadi awak pesawat TU-16. Ketika mendengar cerita Bapak, saya membayangkan dan merasakan bagaimana suasana saat itu. Masa-masa mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari serangan negara-negara sekutu. Dan Bapak menjadi bagian dari sejarah itu. Sungguh saya merasa kagum, terharu, bangga, bahagia, bercampur menjadi satu.

Artikel di bawah ini bersumber dari http://tni-au.mil.id. Saya menyimpannya di sini sebagai bagian dari catatan sejarah Bapak kami, Letkol Adm. (Pur) Su'ud Tumenggung Zees, yang menjadi bagian dari cerita kehebatan pesawat pembom TU-16.

Bapak menjadi salah satu dari puluhan personil TNI-AU yang dikirim ke Chekoslovakia dan Rusia untuk mempersiapkan awak dalam mengoperasikan pesawat pembom strategis TU-16. Mereka dikenal dengan angkatan Cakra I, II, III, Ciptoning I dan Ciptoning II (seperti yang disebut dalam artikel ini).

Kini usia Bapak menginjak ke 79 tahun pada tahun 2019 ini. Walau sudah sepuh, Bapak masih mengingat jelas sebagian besar perjalanan hidup yang telah dilaluinya. Tersirat semangat juang, kebanggaan sebagai pengayom bangsa, sebagai seorang personil TNI-AU yang rela mengorbankan "jiwa raga" demi keutuhan bangsanya.

Kami anak-anaknya merasa bersyukur memiliki Bapak yang tangguh, berjiwa patriotisme, pemberani, disiplin, dan sangat loyal pada profesinya. 

"BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG TIDAK PERNAH MELUPAKAN SEJARAH BANGSANYA SENDIRI." 
(Bung Karno)




====================



        TU-16 Pesawat Pembom Super Yang                         Pernah Dimiliki Indonesia


Saat penerbangan terakhir pesawat TU-16
(Bapak paling kiri depan yang jongkok)


Satu-satunya pesawat TU-16 yang masih tersisa, di Museum Dirgantara, Yogyakarta.

Foto-foto : google



Bila predikat Angkatan Udara terkuat di Asia Tenggara kini di pegang oleh Singapura, maka di era tahun 60-an kekuatan angkatan udara negeri kita boleh dibilang menjadi “singa”, tak cuma di Asia Tenggara, bahkan di kawasan Asia TNI-AU kala itu sangat diperhitungkan. Bahkan Cina maupun Australia belum punya armada pembom strategis bermesin jet. Sampai awal tahun 60-an hanya Amerika yang memiliki pembom semacam(B-58 Hustler), Inggris (V bomber-nya, Vulcan, Victor, serta Valiant) dan Rusia.

Gelar “singa” tentu bukan tanpa alasan, di awal tahun 60-an TNI-AU sudah memiliki arsenal pembom tempur mutakhir (dimasanya-red) Tu-16, yang punya daya jelajah cukup jauh, dan mampu membawa muatan bom dalam jumlah besar. Pembelian Tu-16 AURI didasari, terbatasnya kemampuan B-25, embargo suku cadang dari Amerika, dan untuk memuaskan ambisi politik.

 “Tu-16 masih dalam pengembangan dan belum siap untuk dijual,” ucap Dubes Rusia untuk Indonesia Zhukov kepada Bung Karno (BK) suatu siang di penghujung tahun 50-an. Ini menandakan, pihak Rusia masih bimbang untuk meluluskan permintaan Indonesia membeli Tu-16. Tapi apa daya Rusia, AURI ngotot. BK terus menguber Zhukov tiap kali bersua. “Gimana nih, Tu-16-nya,” kira-kira begitu percakapan dua tokoh ini. Akhirnya, mungkin bosan dikuntit terus, Zhukov melaporkan juga keinginan BK kepada Menlu Rusia Mikoyan. Usut punya usut, kenapa BK begitu semangat? Ternyata, Letkol Salatun-lah pangkal masalahnya. “Saya ditugasi Pak Surya (KSAU Suryadarma-Red) menagih janji Bung Karno setiap ada kesempatan,” aku Marsda (Pur) RJ Salatun tertawa.

Ketika ide pembelian Tu-16 dikemukakan Salatun saat itu sekretaris Dewan Penerbangan/Sekretaris Gabungan Kepala-kepala Staf kepada Suryadarma tahun 1957, tidak seorangpun tahu. Maklum, TNI tengah sibuk menghadapi PRRI/Permesta. Namun dari pemberontakan itu pula, semua tersentak. AURI tidak punya pembom strategis B-25 yang dikerahkan menghadapi AUREV (AU Permesta), malah merepotkan. Karena daya jelajahnya terbatas, pangkalannya harus digeser, peralatan pendukungnya harus diboyong. Waktu dan tenaga tersita. Sungguh tidak efektif. Celaka lagi, Amerika meng-embargo suku cadangnya. Alhasil, gagasan memiliki Tu-16 semakin terbuka.

Salatun yang menemukan proyek Tu-16 dari majalah penerbangan asing tahun 1957, menyampaikannya kepada Suryadarma. “Dengan Tu-16, awak kita bisa terbang setelah sarapan pagi menuju sasaran terjauh sekalipun dan kembali sebelum makan siang,” jelasnya kepada KSAU. “Bagaimana pangkalannya,” tanya Pak Surya. “Kita akan pakai Kemayoran yang mampu menampung pesawat jet,” jawab Salatun. Seiring disetujuinya rencana pembelian Tu-16 ini, landas pacu Lanud Iswahyudi, Madiun, kemudian turut diperpanjang.

Proses pembeliannya memang tidak mulus. Sejak dikemukakan, baru terealisasi 1 Juli 1961, ketika Tu-16 pertama mendarat di Kemayoran. Ketika lobi pembeliannya tersekat dalam ketidakpastian, Cina pernah dilirik agar membantu menjinakkan “beruang merah”. Caranya, Cina diminta menalangi dulu pembeliannya. Namun usaha ini sia-sia, karena neraca perdagangan Cina-Rusia lagi terpuruk. Sebaliknya, “Malah Cina menawarkan Tu-4m Bull-nya,” tutur Salatun. Misi Salatun ke Cina sebenarnya mencari tambahan B-25 Mitchell dan P-51 Mustang. 

Jadi, pemilihan Tu-16 memperkuat AURI bukan semata alat diplomasi. Penyebab lain adalah embargo senjata Amerika. Padahal saat bersamaan, AURI sangat membutuhkan suku cadang B-25 dan P-51 untuk menghantam AUREV.

Tahun 1960, Salatun berangkat ke Moskow bersama delegasi pembelian senjata dipimpin Jenderal AH Nasution. Sampai kedatangannya, delegasi belum tahu, apakah Tu-16 sudah termasuk dalam daftar persenjataan yang disetujui Soviet. Perintah BK hanya, cari senjata. Apa yang terjadi. Tu-16 termasuk dalam daftar persenjataan yang ditawarkan Uni Soviet. Betapa kagetnya delegasi.

“Karena Tu-16 kami berikan kepada Indonesia, maka pesawat ini akan kami berikan juga kepada negara sahabat lain,” ujar Menlu Mikoyan. Mulai detik itu, Indonesia menjadi negara ke empat di dunia yang mengoperasikan pembom strategis selain Amerika, Inggris dan Rusia sendiri. Hebat lagi, AURI pernah mengusulkan untuk mengecat bagian bawah Tu-16 dengan Anti Radiation Paint cat khusus anti radiasi bagi pesawat pembom berkemampuan nuklir. “Gertak musuh saja, AURI kan tak punya bom nuklir,” tutur Salatun. Usul tersebut ditolak.

Segera AURI mempersiapkan awaknya. Puluhan kadet dikirim ke Chekoslovakia dan Rusia. Mereka dikenal dengan angkatan Cakra I, II, III, Ciptoning I dan Ciptoning II. Mulai tahun 1961, ke-24 Tu-16 mulai datang bergiliran diterbangkan awak Indonesia maupun Rusia. Pesawat pertama yang mendarat di Kemayoran dikemudikan oleh Komodor Udara (sekarang Marsda TNI Pur Cok Suroso Hurip). Mendapat perhatian terutama dari kalangan intel Amerika.

Kesempatan pertama intel-intel AS melihat Tu-16 dari dekat ini, memberikan kesempatan kepada mereka memperkirakan kapasitas tangki dan daya jelajahnya. Pengintaian terus dilakukan AS sampai saat Tu-16 dipindahkan ke Madiun. U-2 pun mereka libatkan. Wajar, di samping sebagai negara pertama yang mengoperasikan Tu-16 di luar Rusia, kala itu beraneka ragam pesawat blok Timur lainnya berjejer di Madiun.

Senjata Rudal kennel 
Kennel memang tidak pernah ditembakkan. Tapi ujicoba pernah dilakukan sekitar tahun 1964-1965. Kennel ditembakkan ke sebuah pulau karang di tengah laut, persisnya antara Bali dan Ujung Pandang. “Nama pulaunya Arakan,” aku Hendro Subroto, mantan wartawan TVRI. Dalam ujicoba, Hendro mengikuti dari sebuah C-130 Hercules bersama KSAU Omar Dhani. Usai peluncuran, Hercules mendarat di Denpasar. Dari Denpasar, dengan menumpang helikopter Mi-6, KSAU dan rombongan terbang ke Arakan melihat perkenaan. “Tepat di tengah, plat bajanya bolong,” jelas Hendro.

Diuber Javelin
Lebih tepat, di masa Dwikoralah awak Tu-16 merasakan ketangguhan Tu-16. Apa pasal? Ternyata, berkali-kali pesawat ini dikejar pesawat tempur Inggris. Rupanya, Inggris menyadap percakapan AURI di Lanud Polonia Medan dari Butterworth, Penang.

“Jadi mereka tahu kalau kita akan meluncur,” ujar Marsekal Muda (Pur) Syah Alam Damanik, penerbang Tu-16 yang sering mondar-mandir di selat Malaka.

Damanik menuturkan pengalamannya di kejar Javelin pada tahun 1964. Damanik terbang dengan ko-pilot Sartomo, navigator Gani dan Ketut dalam misi kampanye Dwikora.

Pesawat diarahkan ke Kuala Lumpur, atas saran Gani. Tidak lama kemudian, dua mil dari pantai, Penang (Butterworth) sudah terlihat. Mendadak, salah seorang awak melaporkan bahwa dua pesawat Inggris take off dari Penang. Damanik tahu apa yang harus dilakukan. Dia berbelok menghindar. “Celaka, begitu belok, nggak tahunya mereka sudah di kanan-kiri sayap. Cepat sekali mereka sampai,” pikir Damanik. Javelin-Javelin itu rupanya berusaha menggiring Tu-16 untuk mendarat ke wilayah Singapura atau Malaysia (forced down). Dalam situasi tegang itu, “Saya perintahkan semua awak siaga. Pokoknya, begitu melihat ada semburan api dari sayap mereka (menembak-Red), kalian langsung balas,” perintahnya. Perhitungan Damanik, paling tidak sama-sama jatuh. Anggota Wara (wanita AURI) yang ikut dalam misi, ketakutan. Wajah mereka pucat pasi.

Dalam keadaan serba tak menentu, Damanik berpikir cepat. Pesawat ditukikkannya untuk menghindari kejaran Javelin. Mendadak sekali. “Tapi, Javelin-Javelin masih saja nempel. Bahkan sampai pesawat saya bergetar cukup keras, karena kecepatannya melebihi batas (di atas Mach 1).” Dalam kondisi high speed itu, sekali lagi Damanik menunjukkan kehebatannya. Ketinggian pesawat ditambahnya secara mendadak. Pilot Javelin yang tidak menduga manuver itu, kebablasan. Sambil bersembunyi di balik awan yang menggumpal, Damanik membuat heading ke Medan.

Segenap awak bersorak kegirangan. Tapi kasihan yang di ekor (tail gunner). Mereka berteriak ternyata bukan kegirangan, tapi karena kena tekanan G yang cukup besar saat pesawat menanjak. Akibat manuver yang begitu ketat saat kejar-kejaran, perangkat radar Tu-16 jadi ngadat. “Mungkin saya terlalu kasar naiknya. Tapi nggak apa-apa, daripada dipaksa mendarat oleh Inggris,” ujar Damanik mengenang peristiwa itu.

Lain lagi cerita Sudjijantono. “Saya ditugaskan menerbangkan Tu-16 ke Medan lewat selat Malaka di Medan selalu disiagakan dua Tu-16 selama Dwikora. Satu pesawat terbang ke selatan dari Madiun melalui pulau Christmas (kepunyaan Inggris), pulau Cocos, kepulauan Andaman Nikobar, terus ke Medan,” katanya. Pesawat berikutnya lewat jalur utara melalui selat Makasar, Mindanao, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Laut Cina selatan, selat Malaka, sebelum akhirnya mendarat di Medan. Ada juga yang nakal, menerobos tanah genting Kra.

Walau terkesan “gila-gilaan”, misi ini tetap sesuai perintah. BK memerintahkan untuk tidak menembak sembarangan. Dalam misi berbau pengintaian ini, beberapa sempat ketahuan Javelin. Tapi Inggris hanya bertindak seperti “polisi”, untuk mengingatkan Tu-16 agar jangan keluar perbatasan.

Misi ala stealth 
Masih dalam Dwikora. Pertengahan 1963, AURI mengerahkan tiga Tu-16 versi bomber (Badger A) untuk menyebarkan pamflet di daerah musuh. Satu pesawat ke Serawak, satunya ke Sandakan dan Kinibalu, Kalimantan. Keduanya wilayah Malaysia. Pesawat ketiga ke Australia. Khusus ke Australia, Tu-16 yang dipiloti Komodor Udara (terakhir Marsda Purn) Suwondo bukan menyebarkan pamflet. Tapi membawa peralatan militer berupa perasut, alat komunikasi dan makanan kaleng. Skenarionya, barang-barang itu akan didrop di Alice Springs, Australia (persis di tengah benua), untuk menunjukkan bahwa AURI mampu mencapai jantung benua kangguru itu. “Semacam psi-war buat Australia,” ujar Salatun.

Padahal Alice Springs ditongkrongi over the horizon radar system. “Untuk memantau seluruh kawasan Asia Pasifik,” ujar Marsma (Pur) Zainal Sudarmadji, pilot Tu-16 angkatan Ciptoning II.

Walau begitu, misi tetap dijalankan. Pesawat diberangkatkan dari Madiun sekitar jam satu malam. “Pak Wondo (pilot pesawat-Red) tak banyak komentar. Beliau hanya minta, kita kumpul di Wing 003 pukul 11 malam dengan hanya berbekal air putih,” ujar Sjahroemsjah, gunner Tu-16 yang baru tahu setelah berkumpul bahwa mereka akan diterbangkan ke Australia. Briefing berjalan singkat. Pukul 01.00 WIB, pesawat meninggalkan Madiun. Pesawat terbang rendah guna menghindari radar. Sampai berhasil menembus Australia dan menjatuhkan bawaan, tidak terjadi apa-apa. Pesawat pencegat F-86 Sabre pun tak terlihat aktivitasnya, rudal anti pesawat Bloodhound Australia yang ditakuti juga “tertidur”. Karena Suwondo berputar agak jauh, ketika tiba di Madiun matahari sudah agak tinggi. “Sekitar pukul delapan pagi,” kata Sjahroemsjah.

Penyusupan ke Sandakan, dipercayakan ke Sudjijantono bersama Letnan Kolonel Sardjono (almarhum). Mereka berangkat dari Iswahyudi (Madiun) jam 12 malam. Pesawat membumbung hingga 11.000 m. Menjelang adzan subuh, mereka tiba di Sandakan. Lampu-lampu rumah penduduk masih menyala. Pesawat terus turun sampai ketinggian 400 m. Persis di atas target (TOT), ruang bom (bomb bay) dibuka. Seperti berebutan, pamflet berhamburan keluar disedot angin yang berhembus kencang.

Usai satu sortie, pesawat berputar, kembali ke lokasi semula. “Ternyata sudah gelap, tidak satupun lampu rumah yang menyala,” kata Sudjijantono. Rupanya, aku Sudjijantono, Inggris mengajari penduduk cara mengantisipasi serangan udara. Akhirnya, setelah semua pamflet diserakkan, mereka kembali ke Iswahyudi dan mendarat dengan selamat pukul 08.30 pagi. Artinya, kurang lebih sepuluh jam penerbangan. Semua Tu-16 kembali dengan selamat.

Dapat dibayangkan, pada dekade 60-an AURI sudah sanggup melakukan operasi-operasi penyusupan udara tanpa terdeteksi radar lawan. Kalaulah sepadan, bak operasi NATO ke Yugoslavia dengan pesawat silumannya.

Akhir Perjalanan Sang Bomber

Sungguh ironis nasib akhir Tu-16 AURI. Pengadaan dan penghapusannya lebih banyak ditentukan oleh satu perkara: politik! Bayangkan, “AURI harus menghapus seluruh armada Tu-16 sebagai syarat mendapatkan F-86 Sabre dan T-33 T-bird dari Amerika,” ujar Bagio Utomo, mantan anggota Skatek 042 yang mengurusi perbaikan Tu-16. Bagio menuturkan kesedihannya ketika terlibat dalam tim “penjagalan” Tu-16 pada tahun 1970.

Dokumen CIA (central intelligence agency) sebagaimana dikutip Audrey R Kahin dan George McT Kahin dalam bukunya “Subversi Sebagai Politik Luar Negeri” menulis: “Belanja senjata RI mencapai 229. 395.600 dollar AS. Angka itu merupakan akumulasi perdagangan pada tahun 1958. Sementara dari Januari hingga Agustus 1959 saja, nilainya mencapai 100.456.500 dollar AS. Dari jumlah ini, AURI kebagian 69.912. 200 dollar AS, yang di dalamnya termasuk pemesanan 20 pesawat pembom.”

Tidak dapat dipungkiri, memang, Tu-16 pembom paling maju pada zamannya. Selain dilengkapi peralatan elektronik canggih, badannya terbilang kukuh. “Badannya tidak mempan dibelah dengan kampak paling besar sekalipun. Harus pakai las yang besar. Bahkan, untuk membongkar sambungan antara sayap dan mesinnya, laspun tak sanggup. Karena campuran magnesiumnya lebih banyak ketimbang alumunium,” ujar Bagio.

Namun Tu-16 bukan tanpa cacat. Konyol sekali, beberapa bagian pesawat bisa tidak cocok dengan spare pengganti. Bahkan dengan spare yang diambil secara kanibal sekalipun. “Kita terpaksa memakai sistem kerajinan tangan, agar sama dan pas dengan kedudukannya. Seperti blister (kubah kaca-Red), mesti diamplas dulu,” kenang Bagio lagi. Pengadaan suku cadang juga sedikit rumit, karena penempatannya yang tersebar di Ujung Pandang dan Kemayoran.

Sebenarnya, persediaan suku cadang Tu-16 yang dipasok dari Rusia, memadai. Tapi urusan politik membelitnya sangat kuat. Tak heran kemudian, usai pengabdiannya selama Trikora – Dwikora dan di sela-sela nasibnya yang tak menentu pasca G30S/PKI, AURI pernah bermaksud menjual armada Tu-16-nya ke Mesir. Namun hal ini tidak pernah terlaksana.

Begitulah nasib Tu-16. Tragis. Farewell flight, penerbangan perpisahannya, dirayakan oleh para awak Tu-16 pada bulan Oktober 1970 menjelang HUT ABRI. Dijejali 10 orang, Tu-16 bernomor M-1625 diterbangkan dari Madiun ke Jakarta. “Sempat ke sasar waktu kita cari Monas,” ujar Zainal Sudarmadji. Saat mendarat lagi di Madiun, bannya meletus karena awaknya sengaja mengerem secara mendadak. 

Patut diakui, keberadaan pembom strategis mampu memberikan efek psikologis bagi lawan-lawan Indonesia saat itu. Bahkan, sampai pertengahan 80-an, Tu-16 AURI masih dianggap ancaman oleh AS. “Lah, wong nama saya masih tercatat sebagai pilot Tu-16 di ruang operasi Subic Bay, kok,” ujar Sudjijantono, angkatan Cakra 1.

Atraksi Ketangguhan Sang Bomber Dalam Persiapan Operasi Trikora 
Saat Trikora dikumandangkan, angkatan perang Indonesia sedang berada pada “puncaknya”. Lusinan persenjataan Blok Timur dimiliki. Mendadak AURI berkembang jadi kekuatan terbesar di belahan bumi selatan. Dalam mendukung kampanye Trikora, AURI menyiapkan satu flight Tu-16 di Morotai yang hanya memerlukan 1,5 jam penerbangan dari Madiun. “Kita siaga 24 jam di sana,” ujar Kolonel (Pur) Sudjijantono, salah satu penerbang Tu-16. “Sesekali terbang untuk memanaskan mesin. Tapi belum pernah membom atau kontak senjata dengan pesawat Belanda,” ceritanya kepada Angkasa. Saat itu, dikalangan pilot Tu-16 punya semacam target favorit, yaitu kapal induk Belanda Karel Doorman.

Selain memiliki 12 Tu-16 versi bomber (Badger A) yang masuk dalam Skadron 41, AURI juga memiliki 12 Tu-16 KS-1 (Badger B) yang masuk dalam Skadron 42 Wing 003 Lanud Iswahyudi. Versi ini mampu membawa sepasang rudal anti kapal permukaan KS-1 (AS-1 Kennel). Rudal inilah yang ditakuti Belanda. Karena hantaman enam Kennel, mampu menenggelamkan Karel Doorman ke dasar samudera. Sayangnya, hingga Irian Barat diselesaikan melalui PBB atas inisiatif pemerintah Kennedy, Karel Doorman tidak pernah ditemukan Tu-16.

Lain lagi kisah Idrus Abas (saat itu Sersan Udara I), operator radio sekaligus penembak ekor (tail gunner) Tu-16. Bulan Mei 1962, saat perundingan RI-Belanda berlangsung di PBB, merupakan saat paling mendebarkan. Awak Tu-16 disiagakan di Morotai. Dengan bekal radio transistor, mereka memonitor hasil perundingan. Mereka diperintahkan, “Kalau perundingan gagal, langsung bom Biak,” ceritanya mengenang. “Kita tidak tahu, apakah bisa kembali atau tidak setelah mengebom,” tambah Sjahroemsjah yang waktu itu berpangkat Sersan Udara I, rekan Idrus yang bertugas sebagai operator radio/tail gunner. Istilahnya, one way ticket operation. 

Namun para awak Tu-16 di Morotai ini, tidak akan pernah melupakan jerih payah ground crew-nya. “Yang paling susah kalau isi bahan bakar. Bayangkan untuk sebuah Tu-16, dibutuhkan sampai 70 drum bahan bakar. Kadang ngangkutnya tidak pakai pesawat, jadi langsung diturunkan dari kapal laut. Itupun dari tengah laut. Makanya, sering mereka mendorong dari tengah laut,” ujar Idrus. Derita awak darat itu belum berakhir, lantaran untuk memasukkan ke tangki pesawat yang berkapasitas kurang lebih 45.000 liter itu, masih menggunakan cara manual. Di suling satu per satu dari drum hingga empat hari empat malam. Hanya sebulan Tu-16 di Morotai, sebelum akhirnya ditarik kembali ke Madiun usai Trikora.
[Sumber : Majalah Angkasa]


https://tni-au.mil.id/tu-16-pesawat-pembom-super-yang-pernah-dimiliki-indonesia/
============================


Beberapa koleksi foto Bapak saat berada di Chekoslovakia dan Rusia.


                        Bapak di baris paling belakang, ketiga dari kiri


Bapak (paling kiri) bersama rekan-rekannya








Sunday, 13 January 2019

#Rahasia Dapur

Baceman Bawang 

Baceman bawang merupakan fermentasi dari minyak, bawang putih dan kemiri. Baceman ini mantap banget lho digunakan untuk menumis aneka masakan maupun sayuran, seperti nasi goreng, mie goreng, sup, mie kuah, cap cay dan lain sebagainya. 

Cara menggunakannya bisa langsung mengambil minyak beserta bawang dan kemiri (endapannya) saja tanpa tambahan bumbu-bumbu lain lalu digunakan sebagai bumbu tumis, atau bisa juga sebagai pelengkap saat menumis bumbu-bumbu untuk memasak.

Masakan yang memakai tumisan baceman bawang ini memberikan citarasa berbeda, dan aromanya..hhmmm...makin wangii πŸ˜‹. Yang belum coba, wajib nyoba deh..! πŸ˜„

Bahan-bahannya :

Minyak Goreng/minyak sayur  200 ml
Minyak Wijen   50 ml
Bawang putih 100 gram
Kemiri (yang telah disangrai) ukuran besar 4 butir


Cara mengolahnya :
1. Kupas dan cuci bawang. Tiriskan dan keringkan sampai benar-benar kering yaa... 
Saya menjemurnya di bawah matahari, sampai kering saja yaa..jangan kelamaan sampai garing 😁. Pastikan dalam wadah yang tidak memungkinkan lalat hinggap (saya pakai semacam tudung saji πŸ˜„).

2. Haluskan kemiri

3. Bawang yang telah kering digeprek/tumbuk kasar.

4. Tuang minyak wijen dan minyak sayur ke dalam toples (saya menggunakan toples kaca), kemudian masukkan bawang putih dan kemiri. Aduk dengan sendok plastik atau sendok kayu.

5. Tutup rapat toples. Simpan selama 3 hari.

6. Setelah 3 hari minyak bisa digunakan.

Catatan : 
πŸ‘‰Pengalaman kami, bila di suhu ruang, minyak tidak bisa bertahan terlalu lama. Sekitar 2 minggu saja. Sebaiknya simpan di lemari pendingin untuk menjaga kualitasnya.
πŸ‘‰ Bila hendak mengambil minyak ini, gunakan sendok plastik atau kayu serta sendok dalam keadaan kering. Tutup rapat kembali.



#Minuman rempah

Resep Kunyit Asem ala Milan



Segeer...banget rasanya meneguk minuman satu ini. Mau dingin maupun hangat tetep sukaa... Kadang saya membuatnya sendiri, kadang juga beli sama mbak Jamu keliling 😊. Khasiat bahan-bahannya (kunyit, asem, kayu manis, sere) banyak yaa...antara lain baik untuk pencernaan, masuk angin, rematik, melancarkan peredaran darah, dll.

🌸Sekedar mengingatkan. Sebaiknya dalam merebus ramuan/rempah, gunakan panci dari bahan tanah liat khusus untuk membuat ramuan, atau kaca atau paling tidak bahan stainless steel.🌸

Nah bahan-bahan yang dibutuhkan :
1. Air bersih 2 gelas penuh atau sekitar 500ml
2. Rimpang kunyit 100 gram
3. Asem jawa 20 gram
4. Gula Merah/Aren 80 gram
5. Kayu manis 1 batang, panjang sekitar jari telunjuk. Digeprek kasar.
6. Sere 1 batang

Cara membuat :
1. Cuci bersih rimpang kunyit tanpa dikupas kulitnya. Bisa gunakan sikat lembut untuk membersihkan, lalu cuci pada air mengalir.
2. Iris-iris tipis kunyit dan potong-potong sere
3. Rebus air, kunyit, asam, kayu manis, sere, hingga mendidih, kecilkan api.
4. Masukkan gula jawa. Rebus hingga seluruh bahan larut. Aduk-aduk. Diamkan sejenak.
5. Matikan api. Tutup panci. Biarkan hangat. Lalu saring.
Siap disajikan 😍

Selamat Mencoba 😊
Salam Sehat Bahagia πŸ’–




 #REFLEKSI                                                                      PESANMU..... "Nak... Jauhilah prasangka buruk kepada si...