Saturday, 12 January 2019

#Tinjauan Film 
Jilbab Traveler
Love Sparks in Korea






Biasanya Pak Suami mengajak anak-anak untuk membuat resensi film yang telah kami tonton, atau setidaknya gagasan atau pesan apa yang disampaikan pada film tersebut. Menonton film juga merupakan salah satu "kegemaran" saya dan keluarga, berbagai tema film saya suka... entah itu action, drama, kartun, iluminasi, komedi, sejarah, horor, dsb. Film Indonesia, Barat, Korea, India, apa pun... tentunya yang menarik perhatian saya untuk menontonnya 😁. Berjudul-judul film memenuhi Flash disc dan lap top, menontonnya ya tentu kapan saja bila ada waktu luang atau kesempatan.

Suatu hari Paksu mengatakan, "Ada film yang cocok nih untuk dirimu." 😀 Lha maksudnya cocok apa ya? pikirku. Entahlah.. belakangan Ia mengatakan karena pemerannya sama dengan saya, suka memotret. Kirain karena pemeran wanita utamanya (Bunga Citra Lestari) mirip denganku. Hahaha..!

Film yang dimaksud berjudul Jilbab Traveler : Love Sparks in Korea, diangkat dari novel besutan Asma Nadia sekaligus sebagai penulis cerita di film ini. Karya yang sudah cukup lama, rilis 27 Juni 2016.

Saya tidak menceritakan kembali atau membuat semacam resensi film tersebut, karena toh sudah banyak yang membuat semacam resensi untuk film-film yang telah tayang. Namun hanya ingin share point-point yang saya anggap berkesan dari suatu film. Bisa berupa dialog yang memiliki makna mendalam, pesan-pesan yang sekiranya bermanfaat atau memberikan pelajaran maupun teladan yang baik bagi sesama, dan sejenisnya.

Dalam film yang berlatar belakang suatu keluarga : Ayah, Ibu dengan 3 orang anak yang telah dewasa (Tia, Eron, Rania), cukup menggambarkan keluarga yang harmonis, santun, dan kehidupan religi yang baik. Sang Ayah mendidik anak-anaknya agar optimis dan semangat dalam menjalani kehidupan. Kata-kata Ayah terngiang pada telinga Rania kecil, saat ia berlarian di sisi rel kereta api bersama saudara-saudaranya. "Suatu saat gerbong-gerbong kereta ini akan membawamu ke negeri yang jauh."

Harapan sang Ayah terjawab di kemudian hari, impiannya kepada Rania menjadi kenyataan. Ia sering mendapatkan kesempatan berkunjung ke negara-negara lain melalui kepiawaiannya menulis. Rania (diperankan Bunga Citra Lestari) tumbuh menjadi seorang gadis tangguh, yang tak putus asa walau gagal melanjutkan kuliah karena sakit gagar otak yang pernah dideritanya. Ia menjadi seorang penulis buku yang karyanya telah banyak diterbitkan.

Ayahnya berpesan kepada Rania, "Jadilah Ibnu Batutah bagi Ayah. Jadilah mata dan kaki Ayah dalam menjelajahi dunia." Ayah Rania kagum kepada sosok Ibnu Batutah yang telah mengelilingi puluhan negara di berbagai belahan dunia sejak usia yang terbilang muda dalam membawa misi da'wah sekaligus berniaga. Namun tak lama kemudian Rania mendapatkan kenyataan pedih, Ayahnya berpulang ke Rahmatullah.

Konflik yang dihadirkan pada film ini berkisar pergulatan Rania dalam menentukan calon pendamping diantara dua pria yang mendekatinya. Yaitu Hyun Geun (diperankan oleh Morgan Oey), seorang muslim berkebangsaan Korea namun ternyata masih keturunan Indonesia dan bermukim di Korea, serta Ilhan (diperankan oleh Giring Ganesha) seorang pria berprofesi sebagai pengajar yang telah dekat dengan keluarganya.

Perjuangan Ilhan dan Hyun Geun dalam mendekati Rania, cukup menarik dan sedikit menggelitik. Keduanya melancarkan jurusnya masing-masing dengan pantang menyerah. Istilah sekarang tuh "ga baperan" 😁, tidak saling menjelekkan atau pun bersikap dan berkata kasar.

Singkat cerita, Rania menjatuhkan pilihan kepada Ilhan. Persiapan pernikahan pun digelar. Di tengah kesibukan persiapan tersebut, Rania mengetahui bahwa Hyun Geun terluka disebabkan terkena dampak aksi bom di Palestina ketika ia menjadi relawan di sana. Kejadian tersebut mengakibatkan salah satu tangannya diamputasi, kenyataan itu membuat Hyun menjadi "down". Sahabat Hyun Geun, Alvin (diperankan oleh Ringgo Agus Rahman) mengabarkan dan meminta Rania ke Korea untuk menemui Hyun Geun.

Di luar dugaan, Ilhan justru menyarankan Rania ke Korea menemui Hyun Geun dan siap menemani Rania ke Korea. Setiba di Korea dan menemui Hyun Geun, tak disangka Ilhan meminta Rania jujur menyatakan apakah Ia memilih Hyun Geun atau dirinya sebagai pendamping hidupnya. Karena Ilhan menangkap sikap Rania selama ini menyiratkan memendam perasaan kepada Hyun Geun.

Point ini cukup membuat saya "salut" akan kebesaran hati Ilhan yang tidak memaksakan kehendak pada Rania. Juga tidak berusaha merebut perasaan Rania dan menyingkirkan Hyun Geun, namun menyelesaikan semuanya dengan elegan.

Sedikit yang saya sayangkan, ada scene memperlihatkan "kekurangwajaran". Contohnya saat Rania bertemu untuk pertama kalinya dengan Hyun Geun dan sahabat Hyun, Alvin di Baluran kemudian melanjutkan perjalanan ke kawah Ijen. Mereka pergi bertiga sampai malam hari, di lokasi yang digambarkan sepi dan cukup gelap (mirip dalam sebuah gua). Agak riskan saja jika seorang wanita pergi bersama dua orang pria yang baru dikenal dan melakukan perjalanan ke tempat seperti itu. Lalu gambaran kedekatan Rania dan Hyun Geun memperlihatkan keindahan wisata di Korea, bermain salju, bersepeda dan mengunjungi kuil. Menurut saya agak berlebihan untuk seseorang yang baru dikenal serta untuk tontonan dengan mengusung nuansa religi.

Di samping itu, persiapan pernikahan agak terkesan berlebihan dengan mempertontonkan kebersamaan Ilhan dan Rania dalam banyak urusan seperti Ilhan menemani Rania fitting gaun pengantin dan menata rumah baru yang akan ditempati setelah menikah.

Kegalauan sikap Rania pun tertangkap dalam menghadapi Ilhan maupun Hyun, mengesankan sedikit "kebingungan" dan kurang mantap dalam menetapkan pilihan. Atau mungkin saja ini menjadi salah satu daya tarik cerita agar memberikan "greget" bagi penonton 😄.

Secara keseluruhan film ini cukup menarik untuk ditonton. Memperlihatkan keharmonisan keluarga, kasih sayang, optimisme, tutur kata santun serta ketegaran menghadapi hidup. Pesan untuk berbaik sangka terhadap orang lain ditunjukkan kala Rania baru mengenal Hyun yang berambut gondrong, berpenampilan "urakan" bahkan minum alkohol. Di kemudian hari Rania terkejut mengetahui bahwa Hyun seorang muslim. Setelah kesedihan mendalam mendapati Ibunya yang meninggal dunia saat Ia berada di Indonesia, Hyun bangkit dan berubah dengan tampilan menjadi lebih rapi dan sopan, meninggalkan alkohol serta menjadi relawan di Palestina.

Penonton juga dimanjakan suguhan indahnya panorama negeri ini yaitu Baluran dan kawasan kawah Ijen. Di samping pemandangan alam negara-negara lain yang menarik serta mengundang decak kagum.

Oh ya satu lagiiii....Saya suka kata-kata Rania ketika Hyun mengatakan mengapa masih menggunakan kamera seperti yang digunakannya sekarang. Rania menjawab : "Tak perlu kamera bagus untuk menghasilkan foto yang bagus."

Bagi saya ini maknanya mendalam. Untuk melakukan yang terbaik gunakanlah apa yang kita miliki saat ini. Bila belum mampu memiliki yang lebih, jangan memaksakan. Yang penting memulai, jalani. Jangan menunggu sesuatu yang belum bisa dijangkau untuk melakukan tindakan.


Right?


#Free Writing 6 

Mencari Buku, maka Buku mencarimu


Tulisan ini sekalian ingin mengucapkan terima kasih kepada kanda Sulhan Yusuf Daeng Litere​... pasalnya karena komen beliau pada postinganku menyebut buku "The Miracle of Endorphin" hingga bertemulah aku dengan huku itu 😄.

Maka di hari Ahad sepulang menghadiri seminar kesehatan, dengan diantar suami tercinta 😁 panas-panas bela-belain nyari 2 buku yang kuinginkan. Setelah 3 hari menunggu akhirnya buku Endorphin bisa kuperoleh di TB. Paradigma Ilmu..yang kayaknya tinggal 1 (?).

Setiba di rumah, aku langsung membacanya... Waw..ternyata isi buku ini sejalan dengan apa yang kupikirkan selama ini. Namun aku belum mampu mengungkapkan secara ilmiah. Penulisnya Dr. Shigeo Heruyama asal Jepang, memaparkannya dalam buku ini. Alangkah senangnya diriku menemukan pencerahan melalui buku ini.

Dalam pekan ini aku menemukan 2 buku yang sangat menginspirasi...memberikan pencerahan. Mungkin saja sebelumnya aku sudah memperolehnya, namun belum bisa menjabarkannya, mengurai agar terpahamkan, atau bisa juga telah aus tergerus ombak kehidupan sehingga mengaburkannya kembali.

Bagiku ini rezeki. Kebahagiaan tersendiri.
Ciptakan bahagiamu setiap saat...
every minute, every moment 😊





Repost dari Akun FB
Free Writing 10 menit
20 Februari 2018
#FW6

Pict edited by Milan. Tahun 2016.

#Free Writing 5

Seruputan Kopi Pagi

Menulis sembari menyeruput kopi hitam dengan sedikit gula non kalori sebagai pengobat kerinduan akan citarasa manis, biasanya saya membuat kopi tanpa gula.

Yang menambah kebahagiaanku saat ini, di samping kopi ada roti tawar oles margarine isi meises... mungkin ada yang heran, "segitu aja kok bahagia?" Hahahaa....
Karena sudah entah kapan saya menikmati roti terakhir kali. Jadi begitu ketemu roti rasanya bahagiaaa...sekali.

Beberapa tahun ini saya banyak menganalisis (cieee..) sendiri berbagai pola makan, mulai dari membeli buku-bukunya, browsing di internet, diskusi, ikut seminar, masuk di grup-grup facebook nya, sampe menjalani sendiri berbagai metode tersebut. Kan supaya membuktikan sendiri...ye kan, ye kan.

Akhirnya berkesimpulan sementara.... pengen lebih mendalami pola makan dan gaya hidup Rasulullaah saja. Buku-buku mengenai itu sudah tuntas kubaca beberapa tahun lalu. Tinggal bagaimana penerapannya saja. Dan yang terpenting makan, atau melakukan apapun...harus dengan penuh kesadaran. Mindfulness...



Repost dari Akun FB
Free Wraiting 10 menit
15 Februari 2018
#FW5

Picture by Milan
Lokasi : Taman Panen, Makassar. November 2018.
#Free Writing 4
 
Obrolan Pagi

Pagi itu seorang tetangga kami masih berdiri di depan rumah mengajakku ngobrol setelah penjual sayur yang singgah tadi berlalu. Sudah biasa kami beberapa ibu2 di blok yang sama saat pagi usai belanja sayur atau ikan dari pedagang keliling, masih berbincang beberapa saat.

Seorang nenek nampak duduk di teras rumahnya. Beliau tetangga sebelah rumahku. Beliau tersenyum kepada kami dan ikut berbincang sejenak dengan kami dari tempatnya duduk.

Ibu Rina di depanku berbisik, "Saya salut sama Nenek ini, anak-anaknya semua sukses. Anaknya yang nomer 1 jadi Dokter Spesialis di rumah sakit anu, anak nomer 2 jadi anu, nomer 3, 4, ......" Entah berapa anaknya Nenek saya lupa.

Seringkali mendengar perbincangan seperti ini. Intinya merasa "takjub" dengan apa yang dimiliki orang lain. Standar "sukses" mungkin beragam....namun yang banyak dipahami sukses itu berkaitan dengan "materi" atau apa yang nampak...termasuk gelar, jabatan, dan status sosial lainnya. Okelah...itu wajar saja.

Yang mengusik saya adalah, sangat jarang orang yang mencari tahu "Bagaimana caranya bisa begitu?" Dan "Bagaimana perjuangan sehingga mencapai itu" itu yang dilupakan.
Seringkali manusia terpesona dengan "hasil" tapi tak mencari tahu bagaimana "proses" yang dijalani.

Seperti :
"Bagaimana caranya sehingga anak-anak dia semua sukses?"
"Bagaimana dia mendidik anak sehingga anak-anaknya semua jadi anak yang baik??
"Bagaimana cara sehingga usahanya bisa maju seperti sekarang?"
"Bagaimana cara sehingga dia di usia sekarang terlihat bugar dan jarang sakit?"

Itulah yang mesti dicaritahu





Repost dari Akun FB
Free wraiting 10 menit
14 Februari 2018
#FW4

Pict by Milan
Lokasi : Taman Panen, Makassar. Agustus, 2018.
#Free Writing 3

Fitnah Dunia


Suatu hari saat membaca chat salah satu grup WA, seorang teman mengirimkan sebuah artikel berisi hadist Rasulullaah yang isinya kurang lebih, yang disukai oleh Rasul namun tak disukai kebanyakan manusia : Mati dan Miskin.

Agak merinding membacanya...Mati. Miskin. Dua hal yang sering terdengar menakutkan bagi sebagian orang. Jika bisa, ingin hidup selamanya dan kaya raya.

"Dunia merupakan penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir." Kata hadist lain. Begitu banyak fitnah dunia ini...dunia yang gemerlap, penuh kesenangan dan godaan. Harta dan kekayaan...memberikan kenyamanan  dan kebanggaan yang fana lagi fatamorgana.

Saya tak mengatakan bahwa tak perlu berusia panjang dan tak perlu memiliki harta benda. Bukan sisi itu yang saya bahas. Saya tak akan berceramah atau memberi petuah bla..bla..bla... hanya sebuah renungan saja bagi saya pribadi. Titik.







Repost dari Akun FB
Free Wraiting 10 menit
12 Februari 2018
#FW3

Foto : Milan
Lokasi : Polman, Sul-Bar. Mei, 2018.
#Free Writing 2

Tak kan Menyerah


Baiklah kan kutulis yang aku rasakan saat ini... Rasa bahagia, rasa syukur atas apapun meski itu sesuatu yang "sederhana". Di tengah latihanku pagi ini -sambil bercardio- kugoreskan bahagiaku.

Cedera yang kualami sempat membuatku patah arang. Hingga membuatku istirahat sejenak dari melatih murid-muridku. Ku susun lagi puing-puing itu... aku harus tegar, karena ada Ia yang senantiasa memberiku kekuatan.

Hari demi hari kulalui dengan latihan-latihan fisik, latihan mengistirahatkan pikiran, memperbaiki pola makan dan gaya hidupku yang sempat morat-marit. Seperti pagi ini. Aku berangkat ke tempatku latihan. Aku menjadi trainer bagi diriku. Mengalahkan kemalasan, keegoan, keluar dari zona nyaman. Biasanya pagi-pagi aku masih ngopi ditemani beberapa cemilan sarapan sembari membalas chating yang masuk di smartphone. Kini pagi-pagi harus bangkit.

Kuawali latihan dengan beberapa gerakan peregangan Yoga dan Pilates. Aku terkejut.... ternyata kini fisikku telah mengalami progress. Kelenturan, kekuatan, keseimbangan sudah jauh berubah, walau belum 100% seperti dulu. Bahkan aku menarget untuk bisa lebih baik dari kemampuanku yang dulu. Setelah latihan peregangan aku harus lanjut latihan cardio dan beban. Karena kelas hari ini cuma satu dan itu pun sudah lewat, maka kuhabiskan saja waktuku berlatih sendiri.
Aku optimis segalanya akan lebih baik dari sebelumnya, aku tak kan menyerah.






Foto : Milan
Lokasi : Taman Panen, Makassar. Mei, 2018.

Repost dari akun FB
Free Wraiting 10 menit Grup Ibuk-Ibuk Menulis
#FW2
10 Februari 2018

Aku Adalah Bumi



Aku adalah bumi, yang berotasi dan berevolusi. Aku tak pernah diam, senantiasa gerak dan bergerak...
Aku adalah bumi, yang tak pernah sendiri karena ada matahari dan bulan bersamaku
Aku adalah bumi, yang mengayomi penduduk begitu banyaknya
Penduduk bumi dengan beragam wujud

Ada penduduk yang membuat kerusakan pada diriku,
Namun aku tak pernah marah
Karena sadar bahwa aku sedang menjalankan amanah agar mereka dapat tetap tumbuh dan hidup
Aku tak ingin mengusir, aku berharap mereka kelak dapat berubah menjadi baik dan mulia

Ada pula yang memeliharaku penuh cinta,
Hingga penduduk langit pun cinta kepada mereka

Semua itu kuterima karena aku hanya menjalankan amanah. Dengan menerima tugas ini aku berdzikir kepadaNya.

Tak sedikit pula yang mengusikku. Serangan meteor dan benda-benda angkasa lainnya kuterima dengan lapang dada. Tak pernah aku mengeluh atau merintih kepada yang memberiku amanah. Karena aku menyadari, meski gangguan itu selalu ada namun Ia pula yang menolong dengan melindungiku melalui atmosferNya.

Ia pasti membantuku, mengabariku jika ada yang mencoba menyerang dan tak mungkin membebani di luar kemampuanku. Aku bergerak dan bergerak...menjalankan amanahNya, hanya itu.









*Repost from My Facebook Account
Date 8 March 2016, time 22:19

Picture taken by  : Raniah
Lokasi : Malakaji, Jeneponto. Oktober, 2018.

 #REFLEKSI                                                                      PESANMU..... "Nak... Jauhilah prasangka buruk kepada si...